Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » » Konseling Psikoanalisis

Konseling Psikoanalisis

A. Riwayat Hidup Tokoh Psikoanalisis
Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia dilahirkan sebagai anak sulung dari keluarga Yahudi, 6 mei 1856 di kota kecil Freiberg, Marovia, Cekoslawakia (dulu masuk kekaisaran Austria). Ketika ia masih balita, Freud kecil diboyong hijrah oleh keluarganya ke Wina dan menetap di sana sampai tua. Ia pindah ke London tahun 1920 ketika Austria dikuasai Nazi.
Freud pada mulanya tertarik pada Sains, terutama Biologi. Setamat SMA tahun 1873 ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Wina dan memperoleh predikat dokter tahun 1881. Freud telah bekerja pada laboratorium Fisiologi di Brueke selagi ia masih kuliah (1876-1882). Setelah itu ia mengabdi pada RSU Wina untuk menangani bidang anatomi otak (1882-1884), dan beralih sebagai peneliti kokaine (1885-1887).
Desakan ekonomi yang ditimbulkan karena terbatasnya fasilitas untuk keturunan Yahudi di Wina, memaksa Freud membuka praktek dokter sore harinya. Di dalam praktek ini, Freud menemukan jati dirinya, ia mendapatkan banyak tantangan sehingga terdorong untuk melakukan riset dan menulisnya dalam berbagai artikel, sehingga jiwa penyelidikanya menjadi berkembang.
Karena Freud seorang dokter yang telah bekerja pada bagian anatomi otak, ia menjadi tertarik mendalami aspek psikis atau mental dari manusia. Apalagi, Gustav Fechner ahli filsafat kebangsaan Jerman telah mendemontrasikan bahwa jiwa manusia dapat dipelajari secara ilmiah dan diukur secara kuantitatif.
Untuk itu, Freud mulai belajar mendalami gangguan jiwa atau neurosis lewat Jen Charcot, ahli syaraf dari Perancis, yang waktu itu tengah mengembangkan Hipnotis untuk mengatasi kasus-kasus histeria. Tapi Freud tidak puas, karena ia pikir cara tersebut bersifat sementara dan terkesan bersifat magis. Beberapa bulan saja ia telah pamit untuk berpisah dengan Charcot.
Ketika ia mendengar ada cara baru yang dikembangkan Joseph Breuer, menyembuhkan neurosis dengan berbicara atau terkenal dengan teknik talking–out (the talking-out technique), maka Freud segera memburu untuk berkolaborasi dengannya. Kerjasama Freud- Breuer melahirkan buku : Studi tentang Histeria yang mereka tulis berdua dan dipublikasi tahun 1895.
Akan tetapi Freud-Breuer pecah kongsi. Mereka berbeda pendapat dalam menentukan penyebab histeria. Freud menyakini pentingnya analisis faktor seksual, karena itu Freud merasa perlu mengembangkan Metode Asosiasi Bebas (Free Association Method) untuk mengungkap kasus. Breuer menolaknya, dan lebih menekan pada pengungkapan oleh klien dalam keadaan tersugesti secara sadar, dan menganggap faktor seksual sebagai ingatan yang tak disadari saja melalui Talking out.
Perpisahan ini membawa berkah bagi Freud.Sejak itu, dorongan Freud untuk membuktikan kebenaran pandangannya semakin besar. Freud ingin membuktikan sendiri tanpa dibayangi Breuer. Hasilnya, temuan demi temuan Freud menjadi sejarah penting dari psikologi dan terapi di kemudian hari, terutama sekali Psikoanalisis
Sejak perpisahan tersebut Freud berhasil menulis banyak buku, diantaranya : (1) The Interpretation of Dreams tahun 1890, (2) The Psychopathology of Everyday Life, tahun 1904, (3) A Case of Hysteria tahun 1905, (4) Three Esssays of Sexuality, tahun 1905. Serta sejumlah karangan dan artikel lepas yang ditulis Freud dalam berbagai bentuk. Semua tulisan Freud itu, . konon telah dihimpun dalam edisi bahasa Inggris sebanyak 24 jilid.
Freud adalah orang yang kreatif dalam mengembangkan teorinya terus menerus. Di usia “gaek” masih mampu berprestasi. Bahkan menurut Hall (1980) struktur kepribadian id, ego, dan super ego dikembangkan Freud ketika ia telah berusia 66 tahun, yakni tahun 1920. Sehingga Bertens (1979) mengklarifikasikan tahap perkembangan Psikoanalisis sbb : (1) Periode I (1895-1905) terbentuknya teori Psikoanalisis, (2) Periode II (1905-1920) pendalaman teori Psikoanalisis, (3) Periode III (1920-1939) revisi teori Psikoanalisis.
Setelah Freud menggelarkan torinya melalui buku-buku yang ditulisnya, membuat nama Freud menjadi kesohor dan menarik minat orang untuk belajar kepadanya. Diantaranya terdapat sederet nama ahli psikologi seperti; C G Jung, Alfred Alder, Ernes Jones, A A Brill, Sandor Jerenzi, Karl Abraham dsb. Walaupun sebagian muridnya (Jung dan Adler) memisahkan diri dari Freud, dan mengembangkan teori baru pula.
Pengakuan akademis diperoleh Freud. Tahun 1909, saat ia mendapat undangan Calvin S. Hall, rektor Universitas Clark kala itu, untuk memberi ceramah di Massachussetts. Begitu menariknya ceramah Freud itu, sejak itu Psikoanalisis dimasukan dan menjadi materi perkuliahan pada fakultas kedokteran.
Ketika kota Wina dikuasai oleh Nazi pada Perang Dunia I dan kehidupan orang Yahudi terancam, Freud dapat meloloskan diri secara spektakuler berkat bantuan muridnya Ernes Jones yang berkebangsaan Inggris. Ia menetap di London sampai menghela nafas terakhir 23 september 1939, akibat kanker yang telah dideritanya selama 19 tahun. Kepada kita ditinggalkannya warisan, di samping 6 orang anak dari perkawinannya dengan Martha Bernays tahun 1886, dan seorang putrinya yang terkenal adalah Anna Freud, pelanjut ayahnya. Freud meninggalkan warisan ilmiah yang yang tak terpirikan manfaatnya bagi perkembangan psikologi dan terapi dewasa ini.


B.Prinsip-Prinsip Pokok Teori Freud

Freud orang yang kontradiktif, ia seorang dokter tapi lebih popular dalam psikologi. Dalam literatur kedokteran nama Freud jarang ditemui, tapi literatur psikologi manapun jarang sekali yang tidak merujuk kepada Freud. Bahkan perkembangan dunia konseling saat ini, justru dikembangkan dari pencerahan (baik pro dan kontra) gagasan Freud. Artinya, teori psikologi yang dikembangkan para ahli sekarang pada umumnya kalau tidak merupakan pengembangan, lanjutan, atau pendalaman teori Freud, merupakan penolakkan dari pandangan Freud. Tidak berlebihan kiranya, Psikoanalisis Freud merupakan canang bagi kelahiran konseling atau terapi dewasa ini.
Dalam bukunya, Freud, telah mengulas banyak hal tentang berbagai persoalan kehidupan. Meskipun tidak membuat postulat atau dalil khusus, akan tetapi ada beberapa prinsip yang menurut Bischoff (1977) dan Pervin (1980) yang menonjol dari keseluruhan teori Freud.Prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip Kepuasan
2. Prinsip Realitas
3. Prinsip Reduksi Ketegangan
4. Prinsip Polaritas
5. Prinsip Dorongan Pengulangan

1. Prinsip Kepuasan (Pleasure Principle)

Freud memandang, bahwa manusia bertingkah laku karena didorongn untuk menemukan kepuasan dan sedapat mungkin menekan atau menghindari ketak-puasan atau ketak-senangan. Oleh sebab itu Freud mengibaratkan manusia sebagai pleasure seeking animal. Pengalaman yang menyenangkan atau mendatangkan kepuasan, disadari atau tidak, justru menjadi barometer seseorang untuk melakukannya. Apapun yang dilakukan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kepuasan yang ingin dia peroleh. Seseorang sanggup melakukan apa saja demi mencapai kepuasan walaupun harus dengan kekerasan, berantam dengan sesama, atau bertingkah tidak wajar. Cermatilah, misalnya orang yang kepepet untuk kencing, bisa memaki atau memukur pintu wc agar orang yang di dalam cepat keluar

Tapi prinsip kepuasan atau kesenangan ini tidak menjadi tujuan, hanya lebih terlihat menjadi kekuatan motivasi untuk mengejar jati diri manusia, menimbulkan dorongan untuk mencapai keadaan yang memuaskan karena itu bukan imajinatif,


Dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemui, seseorang mungkin berkilah bahwa ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, baik seorang ayah dalam mencari uang atau ibu yang memasak di dapur, tapi kenyataannya sang ibu justru lebih sering memasak makanan yang dia sukai, ketimbang yang disukai suami, atau sang ayah sanggup meninggalkan keluarga demi jabatannya.

2. Prinsip Realitas (Reality Principle)
Dorongan untuk mencari kepuasan diri diatas dibatasi oleh realitas. Tidak semua kepuasan tersebut dapat diwujudkan .Seseorang mungkin menunda kepuasan demi meraih kepuasan lain yang baik, penting, atau lebih berarti. Dalam menghadapi realitas, manusia mungkin mebuat prioritasnya dan memprediksi kepuasan yang lebih penting. Kendatipun ia mau menempuh kesusahan terlebih dahulu. Ambil contoh : Anda, mahasiswa, mau bersusah payah mengikuti kuliah karena memprediksi jabatan, finansial, maupun status sosial selesai kuliah nanti jauh lebih penting.
Bila prinsip kepuasan bersifat instinktif, prinsip realitas lebih banyak dipengaruhi oleh pemelajaran (learning). Bayi belum mampu mencerna realitas secara baik, tapi secepat usianya merambat secepat itu pula lingkungannya memberikan sentuhan pendidikan, maka mulailah ia memperhatikan realitas.

3. Prinsip Reduksi Ketegangan (Tension Reduction Principle)
Prinsip ini berkaitan dengan dua prinsip terdahulu. Dalam suatu keadaan seorang mungkin menemui dua hal yang ekstrim bertentangan. Sekuat adanya dorongan kepuasan sekuat itu pula hambatan pada realitas. Bila hal ini terjadi maka seseorang akan merasa konflik dan timbullah ketegangan (tension) dalam dirinya. Maka seseorang mencari bentuk tingkah laku lain, baik disadari atau tidak, untuk melepaskan ketegangannya itu. Dalam keadaan ini manusia dipandang sebagai tension reduction animal.

4. Prinsip polaritas ( Polarity Principle)
Dalam teori Freud, kendati tidak dieksplisitkannya, dapat ditemukan prinsip polaritas atau dualitas ini. Dengan prinsip ini tergambar adanya dua polar kekuatan yang berbeda dan bertolak belakang dalam kehidupan manusia, yaitu dua macam kualitas yang harus dipilihnya dalam kehidupan shari-hari. Misalnya : baik-buruk, benar-salah , atas-bawah, di dalam-di luar, putih-hitam,, dsb. Polar yang demikian menghadang secara terus-menerus tingkah laku yang akan diambilnya atau tidak.

5. Prinsip Dorongan Pengulangan (Ripitition Compulsion Principle )
Ini merupakan pengakuan peranan pembiasaan dalam tingkah laku. Seseorang akan mengulangi cara tertentu yantg biasa dilakukannya, baik disadarinya atau tidak. Kecendrungan melakukan pengulangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh pengalamannya, terutama pengalaman sukses, sehingga dapat menjadi modus operandi dalam kehidupannya menghadapi masalah yang sama. Cara ini menjadi konstruksi yang dirasionalkan untuk meraih hasil-hasil seperti pengalaman sebelumnya.

C. Struktur Kepribadian Manusia
Pada mulanya orang menganggap bahwa Psikoanalisis merupakan metode penyembuhan (terapi) dan akhirnya berkembang juga menjadi teori kepribadian , terutama setelah lahirnya teori-teori Freud tentang struktur kepribadian manusia pada awal abad ke-19.
Teori Freud tentang kepribadian manusia pada hakekatnya terdiri dari 3 unsur, yaitu id, ego, dan super ego. Ketiga unsur ini terdapat pada setiap manusia, tanpa terkecuali. Ketiga unsur ini perlu berfungsi secara seimbang. Ketimpangan salah satu fungsi mengakibatkan goyahnya kondisi psikis manusia.
Id atau sering juga disebut Das Es merupakan sumber kekuatan mendasar dari sistem kepribadian manusia. Id bersifat biologis, dan melahirkan dorongan subyektifitas yang berfungsi menjaga keseimbangan diri manusia.
Id tidak toleran dan tidak sabar terhadap ketegangan (tension), dan maunya secepat mungkin melepaskan ketegangan agar terwujud kembali keseimbangan . Oleh karena itu, id hanya mengenal prinsip kepuasanatau kesenangan (pleasure principle). Sehinggga kadang-kadang id terlihat tidak rasional, tidak realistis, tidak disiplin, tidak mengenal aturan, tidak terorganisir, dan tidak disadari. Id bersifat reflaks guna mengejar kesenangan subyektif dan menolak ketakpuasan dan ketaksenangan.
Pech dan Whitlow (1975) menyimpulkan bahwa ID,menurut Freud, bersumber pada Libido : suatu dorongan yang hampir seluruhnya dikendalikan instink seksual. Yaitu instink yang bukan dalam arti sempit, tapi mencakup rasa persahabatan , disayangi, serta untuk mempertahankan dan melanjutkan diri dan keturunan.
Ego merupakan eksekutif; pelaksana, pengendali, dan pengatur id. Fungsi utama ego atau juga sering disebut Freud dengan Das Ich, adalah untuk menjembatani instink yang ditimbulkan id dengan kondisi obyektif dari lingkungan. Ego merupakan aspek psikis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan harmonisnya hubungan seseorang denga lingkungannya atau realitas, sehingga ego didasari oleh prinsip realitas ( reality principle).
Ego tidak bersifat menghalangi id, tetapi berusaha menyeleksi, memilih dan memprioritaskan obyek-obyek yang mungkin dapat memenuhi dorongan id. Implus-implus buta dari id yang mendesak untuk dipenuhi dihadapkan Ego kepada kondisi realitas, sehingga Ego merupakan perantara antara id dengan realitas lingkungan.
Sedangkan Super Ego atau Das Ueber Ich merupakan aspek sosiologis atau dapat dianggap sebagai aspek moral dari kepribadian. Super Ego berfungsi untuk memutuskan id yang telah diprioritaskan Ego benar atau salah, baik atau buruk, pantas atau tidak, etis atau tidak, dsb. Pertimbangan Super Ego ini berasal dari internalisasi nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat diperoleh seseorang dari orngtuanya, guru, dan masyarakat, melalui pendidikan (perintah atau larangan).
Super Ego terdiri atas dua macam penimbang, yaitu ego ideal dan kata hati (conscience). Ego ideal terbentuk dari respon pendidikan yang bersifat memberi pujian atau hadiah. Kata hati terbentuk akibat hukuman-hukuman dalam pendidikan. Ego ideal membentuk rasa bangga akan diri, dan kata hati akan membentuk rasa berdosa atau rasa bersalah.
Dengan demikian, Super Ego dalam trikotomi ini berfungsi untuk (1) merintangi dorongan id yang tidak diterima masyarakat, (2) membujuk id untuk mengalihkan tujuannya dari realitas kepada moralitas, dan (3) mengejar kesempurnaan ( Dahlan, 1985 dan Suryabrata, 1986).

D. Dinamika dan Perkembangan Kepribadian Manusia
Ketiga unsur kepribadian, id, ego, dan super ego diatas merupakan energi psikis yang menghasilkan keinginan, pengamatan, dan pikiran. Dalam berhubungan dengan dunia luar, dapat terjadi perubahan energi dari dan ke energi psikis. Pikiran ( energi psikis) dapat menimbulkan perbuatan ( energi otot). Suara (energi mekanik) dapat menimbulkan pemahaman (energi psikis) ( Hall, 1980).
Energi psikis ini menurut Freud (Hall & Lindzay, 1981) adalah suatu dorongan dari dalam yang ditimbulkan oleh instink. Instink psikologis disebut keinginan (wish),
Yang berkaitan dengan tubuh dinamai kebutuhan (need).
Freud membedakan instink atasdua macam: Eros dan Thanatos. Eros adalah instink kehidupan ( life instinct) yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan manusia dan melanjutkan keturunan. Energi yang mendorongnya disebut libido yang berbentuk instink seksual yang meliputi berbagai macam erotis. Sedangkan Thanatos atau instink kematian (death instinct) adalah instink yang destruktif atau merusak. Perkelahian dan agresi dalam rangka mempertahankan diri salah satu bentuk perwujudannya. Tapi Freud tidak menjelaskan, energi apa yang menggerakkannya. Hanya bermula dari pandangannya ; “ The goal of all life is death” (Hall & Lindzey, 1981). Sehingga orang mempunyai keinginan akan mati walaupun tidak disadarinya. Instink kematian ini kadang-kadang bersatu dengan instink kehidupan sehingga saling menetralkan.
Instink yang membentuk energi psikis ini masuk kedalam id sehingga mempengaruhi ego dan super ego. Ego dituntut untuk mengontrol id. Bila id lepas control dari ego dan super ego, seseorang mungkin melakukan sesuatu yang tidak penting dan atau bertantangan dengan nila dan norma masyarakat. Akibatnya timbullah kecemasan (anxiety). Bila kecemasan mencapai tingkat yang tinggi , ego akan berusaha mencari bentuk pertahanan yang menyimpang dan mempengaruhi psikis manusia.
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika dan perkembangan kepribadian manusia pembahasan diatas belum terasa memadai. Psikoanalisis tidak hanya terbatas pada energi psikis diatas, tapi masih terdapat konsep-konsep penting dari teori yang dikembangkan Freud. Dibawah ini ada beberapa konsep penting dari Freud, yaitu :

1.Tingkat Kesadaran Manusia
Freud mengklarifikasikan kesadaran manusia atas tiga, yaitu : alam sadar (consciousness), ambang sadar (preconscious) dan alam tak sadar (unconscious).
Alam sadar adalah bagian dari kehidupan psikis individu yang sepenuhnya disadari. Kondisi kesadaran memungkinkan individu mengenal dirinya dan yang terjadi disekelilingnya. Ambang sadar merupakan kondisi antara sadar dan tidak sadar atau keadaan samara-samar. Kesan pada ambang sadar dapat ditangkap dan dimengerti tapi mudah sekali terlupakan. Ambang sadar berfungsi sebagai saringan untuk alam sadar.Sedangkan alam tak sadar merupakan segenap pengalaman yang terlupakan oleh individu.

Konsep Freud tentang kesadaran ini
diibaratkannya seperti gunung es.
Kesadaran jauh lebih kecil dari alam
ketaksadaran yang dimiliki
oleh individu, seperti gambar disebelah
Bongkahan salju yang tidak terlihat
Justru lebih besar dan lebih banyak
dari yang tampak



Konsep ini oleh pewaris Freud (Freudian) dikembangkan. Benassy (Bischoff, 1977) menambah adanya subconscious yaitu keadaan di bawah atau di luar kesadaran tetapi tidak tepat dianggap salah satu kategori di atas. Misalnya kondisi kesadaran ketika terbius, guna-guna atau koma.
Sementara oleh Jung, konsep ketaksadaran ini keperluasnya dengan mengembangkan adanya ketaksadaran personal dan ketaksadaran kolektif. Ketaksadaran personal merupakan pengalaman yang pernah disadari yang kemudian ditekan atau dilupakan seperti pengalaman yang menyakitkan dan memalukan. Sementara ketaksadaran kolektif bersifat pembawaan yang diturunkan atau diwarisi melalui arcetif dari nenek moyangnya. Inilah yang menyebabkan klen, suku, atau ras.
Temuan Freud tentang alam tak sadar ini merupakan pendobrakan akan konsep klasik sebelumnya yang memperhatikan alam kesadaran manusia semata. Oleh karena alam ketaksadaran dapat muncul sebagai implus yang menggunakan prinsip kepuasan , maka diharapkan alam ambang sadar dapat menyaringnya. Akan tetapi direvisi Freud kemudian dengan id,ego dan super ego.

2. Konsep tentang cinta
Instink seksual merupakan konsep penting dari teori Freud dan malah mempunyai pengaruh terhadap teorinya secara keseluruhan, terutama sekali dalam melakukan analisis terhadap perkembangan cinta dan daerah erotis manusia. Pengaruh tersebut dapat terlihat pada uraian tentang tingkat perkembangan cinta di bawah ini.
Cinta homoseksual adalah tahap dimana seseorang lebih mencintai jenisnya, karena manusia, menurut konsepsi Freud, pada dasarnya biseksual. Lelaki mempunyai karakteristik yang sama dengan wanita dan sebaliknya. Akan tetapi adakalanya ada laki-laki yang dominan di pihak lain wanita yang dominan. Oleh karena itu terdapat halangan untuk bekerjasama antar jenis. Hal ini mendorong timbulnya cinta homoseksual. Laki mencari teman akrab yang laki-laki pula, dan wanita begitu pula memilih obyek cintanya dari jenisnya pula.
Fase yang merupakan klimaks dari perkembangan cinta seseorang adalah cinta heteroseksual, yaitu cinta yang obyeknya diarahkan pada lawan jenis. Karena cinta heteroseksual sudah mengarah pada pemilihan patner hidup dengan segala pertimbangan yang berlaku pada masyarakatnya.


3. Urutan Perkembangan dan Daerah Erotis
Ide cemerlang ciptaan Freud adalah menyangkut daerah erotis, yaitu daerah yang menimbulkan perasaan sensual yang menyenangkan.Daerah erotis itu adalah bagian sebelah luar dari tubuh manusia, atau kulit luar bagian dalam.Perasaan kepuasan akan daerah erotis ini dapat ditimbulkan oleh pembawaan maupun karena perkembangan dan pengalamannya. Daerah erotis itu adalah : mulut (bibir),lubang anus atau dubur, dan alat vital.
Berdasarkan daerah erotis ini Freud mengembangkan teorinya tentang urutan perkembangan individu dan kepribadiannya. Urutan perkembangan (development sequence) dimaksudkan Freud adalah tahap-tahap perkembangan kepribadian dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Urutan perkembangan tersebut dibagi Freud sebagai berikut:

a.Tahap Oral
Tahap oral adalah tahap awal atau bayi. Pada tahap ini mulutmerupakan pusat aktivitasnya, karena itu mulut menjadi sumber kesenangan dan kepuasan erotis.Terbukti setiap yang ditemui bayi selalu dibawa ke mulutnya.

b.Tahap Anal
Bertambahnya usia dan bertambah pula pengalaman anak, ia segera memasuki tahap anal. Anak mulai mengetahui fungsinya anus ketika ia berak. Pengalaman berak tersebut dari hari kehari menempatkan anus sebagai pusat kesenangannya. Karena melalui dubur itu ketegangan sebelumnya hilang seketika. Disini perlakuan orangtua mulai berpengaruh.

c. Tahap Phallik
Setelah melampui tahap oral dan anal, anak segera memasuki tahap phallik (usia 3-5 th). Tahap ini ditandai dengan adanya dorongan yang merangsang berfungsinya alat kelamin. Anak suka mempermainkannya dan mencari kesenangan dengan alat itu. Di saat ini anak mulai mengenal perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, sehingga anak laki-laki takut “ dikebiri” seperti anak perempuan, timbul Oedipus complex, dan anak laki-laki timbul penis envy, dan timbul electra complex.

d. Tahap Latent
Pada tahap ini timbul tantangan bahwa tidak mungkin mewujudkan Oedipus maupun electra complex, karena tidak mungkin memuaskan seksual dengan ibu, atau melayani ayah, dan disertai kematangan anak, maka timbul cathexis. Implus seksual ditekan dan bersifat tersembunyi. (latent).

e. Tahap genital
Tahap genital adalah perkembangan tertinggi dari individu. Anak mulai mengarahkan obyek kesenangannya tidak pada dirinya lagi, tetapi berorientasi keluar dirinya serta memerlukan adanya hubungan timbal balik (reciprocity). Obyeknya terarah pada intercourde dengan lawan jenis. Masa ini dialami anak setelah ia melampui masa pubertas.,



4. Mekanisme Pertahanan Ego ( ego defense mechanism)
Temuan yang penting lagi dari Freud adalah persoalan mekanisme pertahanan ego. Yaitu cara individu mempertahankan egonya dalam menghadapi tuntunan dunia luar yang tidak dapat dipenuhinya . Realitas kadang-kadang menghambat ego untuk mencapai kepuasan, sehingga ketegangan (tension) ditekan, tapi secara tidak sadar tension tersebut menjadi energi untuk menggerakan suatu perilaku dalam bentuk lain.
Dalam menggambarkan hal ini, Freud menggunakan istilah Cathexis dan anti cathexis . Cathexis merupakan tenaga pendorong (id) anti- cathexis tenaga penghalang (dipunyai ego atau Super Ego ).
Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan ego ini adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi, seseorang mereduksi ketegangan dengan cara bertingkah laku seperti orang lain atau obyek yang diakuinya. Anak mengidentifikasi orang tua karena menganggap orangtua “omnipotent”.

b. Represi, yaitu menekan kea lam tak sadar sesuatu yang mencemaskan atau mengganggunya.

c. Regresi, yaitu mekanisme pertahanan ego dengan cara kembali atau mundur ke tahap perkembangan sebelumnya.

d. Pembentukan reaksi (reaction formation), yaitu mekanisme pertahanan ego dengan cara mengganti perasaan tersebut dalam keadaan conscious dengan lawannya.

e. Fiksasi, yaitu reaksi pertahanan ego dimana individu menatap atau berada pada sesuatu fase perkembangan tertentu sebelum memasuki perkembangan berikutnya.

f. Proyeksi mekanisme pertahan ego dengan cara menempatkan dirinya pada orang lain.

g. Sublimasi, yaitu mengalihkan obyek atau tujuan kepada obyek lain atau obyek yang lebih tinggi, biasanya tak disadari.

h. Substitusi adalah sublimasi dalam keadaan sadar.



Selain dari bentuk-bentuk diatas oleh Suryabrata (1986) dinyatakan bahwa masih ada lagi bentuk-bentuk pertahanan ego, seperti isolasi ( menghindar atau memisahkan diri ), introyeksi( menyerap sifat-sifat khusus personal orang lain , Drever, 1952), justifikasi (dalam bentuk rasionalisasi, kausalisasi, dan transkulpasi).


5.Kepribadian Mantap dan Kecemasan
Membicarakan bentuk kepribadian yang mantap menurut pandangan Psikoanalisis, terutama Freud, adalah penting sekali, akan tetapi sulit merumuskannya, karena Freud tidak menggambarkan bentuk kepribadian manusia yang mantap itu secara khusus. Freud memandang manusia dan kepribadiannya secara deterministik, yaitu mantap tidaknya kepribadian manusia ditentukan energi psikis (id, ego, super ego ), alam tak sadar, dorongan boilogis ( seksual) dan pengalaman-pengalaman yang dialaminya terutama pengalaman pada masa balita.
Sifat deterministik dari manusia tersebut sangat mempengaruhi mantap tidaknya kepribadian seseorang di masa sekarang, kualitas deterministik akan menentukan mudah tidaknya individu mengatasi ketegangan (tension) yang dialaminya. Deterministik yang mudah mengundang kecemasan justru akan membentuk kepribadian yang labil, atau tidak mantap.
Hall (1980) menyimpulkan kepribadian mantap menurut pandangan Freud adalah sebagai berikut :
Secara singkat dapat dikatakan, bahwa kepribadian yang mantap adalah kepribadian, dalam mana energi rohaniah telah menemukan cara-cara yang relatif permanen untuk memperluas dirinya dalam melakukan pekerjaan rohaniah. Sifat yang tepat dari pekerjaan ini ditentukan oleh sifat-sifat strukturil dan dinamis dari id, ego, dan super ego dan oleh tindakan-tindakan timbal balik antara mereka, dan oleh sejarah yang berkembang dari id, ego, dan super ego (hal.169)

Untuk tercapainya kondisi kepribadian yang mantap demikian , Hall (1980) mempersyaratkan :
a. Terhindarnya seseorang dari kecemasan yang diakibatkan oleh ketegangan. Kecemasan adalah suatu pengalaman perasaan yang menyakitkan yang ditimbulkan dari dalam diri.
Kecemasan ini ada tiga bentuk :
(1) Kecemasan tentang kenyataan, yaitu pengalaman perasaan sebagai akibat dari pengamatan atas bahaya dunia luar (ego).
(2) Kecemasan neurosis,yaitu akibat pengamatan akan bahaya dari sesuatu yang diperkirakan terjadi (id)
(3) Kecemasan moral, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah sebagai akibat dari pertimbangan super ego.
b. Terpecahkan pertentangan antara id, ego, dan super ego.
c. Terdapatnya kematangan dan keseimbangan antara cathexis dan anti-cathexis sehingga tidak selalu tertekan saja, tetapi ditemukan obyek atau bentuk aktivitas baru yang tepat.
Dengan memperhatikan pandangan Freud diatas, maka beberapa bentuk kepribadian yang diwujudkan seseorang dalam bentuk perilakunya dapat dilakukan penafsiran melalui bagian-bagian khusus dari teori Freud.
Prilaku tidak wajar yang ditampilkan seseorang, baik ketidak wajaran dalam seks (perkosaan, homoseksual, lesbian, anal seks, onani, masturbasi, dsb) maupun ketidak wajaran di bidang lain, seperti penipuan, korupsi, sadis dan sejenisnya, serta bentuk kondisi psikis diluar batas normal seperti cemas, psikosa, dan neurosa dapat dicari diterminasi prilaku tersebut baik dari sudut daerah erotis dan tahap perkembangan kepribadian, dari sudut struktur kepribadian , atau dari pengalaman masa lalu.
Prilaku menyimpang yang tidak wajar, terutama dalam seksual, baik yang dilakukan kepada diri sendiri ( onani, masturbasi, dsb), yang diarahkan kepada lawan jenis ( perkosaan, anal seks) atau kepada jenis yang sama (homoseksual dan lesbian) dapat ditelusuri dari pengalaman individu dengan daerah erotis. Oleh karena pengenalan tentang daerah erotis sangat sensitif, trauma yang ditemui ketika berada pada tingkat perkembangan perkenalan kepuasan dari daerah erotis tersebut dapat menimbulkan penyimpangan. Ambilcontoh, orang mendapat sandungan dalam masa genital mungkin terdorong melakukan onani atau masturbasi sampai dewasa.
Ketidak wajaran dalam lapangan sosial, seperti pelanggaran terhadap norma dan nilai masyarakat (mencuri, atau melanggar hokum) maka yang lebih menonjol pada dirinya adalah id, yang orientasinya untuk kesenangan/kepuasan. Ego yang berlandaskan prinsip realitas serta super ego yang berusaha menuju kesempurnaan berada pada pihak yang kalah. Oleh karena itu dorongan id lebih leluasa.
Sedangkan masalah penyesuaian diri, dan kondisi psikis yang labil dapat ditelusuri dari cathexis dan anti-cathexis yang menimbulkan konflik serta mekanisme pertahan diri yang dilakukan.

E. Pengembangan oleh Freudian
Bila Bertans membagi periode perkembangan Psikoanalisis atas tiga (semasa hidup Freud), maka periode itu dapat ditambah dengan periode ke-4 dengan pengembangan ( 1939-sekarang). Yang dilakukan oleh pengikut dan pelanjut Freud ( Freudian ).
Diantara pakar pengembang teori Freud ini adalah seperti Carl. G.Jung (1875-1961),Alfred adler (1870-1937), Karen Horney (1885-1952), Otto Rank ( 1884-1939), Erich Fromm (1900- ? ), Harry Stack Sullivan (1892-1949), Erik hamburger Erikson (1902- ).
Jung memperluas konsep Freud tentang alam tak sadar dengan mengemukakan adanya alam ketaksadaran personal dan kolektif seperti telah diuraikan diatas. Selain itu Jung mengemukakan pula persona sebagai pusat kepribadian yang berisi harapan masyarakat. Anima dan Animus ( feminism dan maskulin), sikap intraversi dan introversi. Jung juga mengembangkan tipe manusia, tipe berfikir (logika), perasa (nilai-nilai),pengecap( persepsi), dan intuitif (proyeksi kemungkinan).
Adler membenarkan pentingnya pengalaman pada masa balita, pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menyebabkan timbulnya gaya hidup yang keliru. Konsep ia tentang gaya hidup merupakan inti teorinya disamping konsep inferioritas dan superioritas. Tapi Adler lebih mempercayai determinan social, bukan seksual seperti Freud.
Persoalan kecemasan yang menimbulkan neurosis mendapat pengembangan dari Horney dengan 10 kebutuhan neurotiknya. Horney memperluas determinan seksual Freud kepada teori social-psikologis. Ia juga mengembangkan tiga macam sikap dasar berdasarkan tahap perkembangan, yaitu : moving toward (helpless pada anak-anak), moving against (hostile pada remaja), dan away from (isolasi pada orang dewasa).
Otto Rank lebih menekankan trauma kelahiran.Berdasarkan konsepnya tentang keinginan ia mengembangkan tiga macam karakter manusia,
yaitu (1) orang rata ( menerima keinginan kelompok), (2) orang neurotik (menolak keinginan kelompok dan bergolak dengan keinginan sendiri), dan (3) orang kreatif (menciptakan standar nilai sendiri dan menerima dirinya ).
Bagi Fromm nilai masyarakat menjadi orientasi dasar. Disebabkan manusia mempunyai kesadaran diri, maka ia kembangkan 5 kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan akan : (1) berhubungan, (2) Transedensi (kreatif dan unggul), (3) kemantapan (4)identitas ( terlepas dari dunia luar), dan (5) kerangka orientasi. Sejalan dengan kebutuhan ini ia juga mengembangkan adanya 5 tipe karakter manusia berdasarkan orentasi, yaitu (1) reseptif ( mencari dukungan), (2) eksploratif (memanipulasi), (3) menimbun (memiliki), (4) pasar (keuntungan ), dan (5) produktif (kreatif).
Sistem diri dan proses terbentuknya ego merupakan sumbangan Sullivan yang berharga terhadap Psikoanalisis. Sistem ini terbentuk sebagai reaksi melawan kecemasan yang diperoleh melalui hubungan interpersonal. Sementara pembentukan ego dianggapnya melalui tiga corak : (1) protaksis (tahunpertama kehidupan dan tidak ada pemisahan waktu dan tempat), (2) parataksis (pengalaman yang terpencar-pencar ketika balita) dan sintaksis (semakin kurangnya distorsi usia dewasa).
Sedangkan Erikson dengan identitas ego-nya sebagai persepsi atas diri sendiri dan anggapan orang lain, mengembangkan prinsip polaritas Freud ke dalam 8 tingkatan perkembangan, yaitu (1) percaya-tidak percaya, 1 th, (2) autonomi- ragu, 1-3 th, (3) inisiatif- salah, 4-5 th. (4) industri- inferioritas, 6-11 th. (5) identitas diri- kekacauan peran, 12-20 th (6) intim- akrab , usia dewasa, (7) keberhasilan –stagnasi, pertengahan dewasa, dan (8) integritas-keputusasaan, dewasa akhir.

F. Penerapan Psikoanalisis Dalam Terapi
Gangguan psikis, dipandang dari Psikoanalisis, disebabkan oleh : (1) pengalaman masa lalu, terutama masa kanak-kanak, (2) dorongan ketaksadaran, dan (3) rasa cemas. Ketiga hal ini mempengaruhi struktur kepribadian seseorang. Oleh karena itu, terapi Psikoanalisis pada hakekatnya bertujuan untuk merekonstruksi struktur kepribadian individu sehingga tercipta keseimbangan antara id, ego, dan super ego. Pengalaman traumatik masa lalu yang terpendam pada alam tak sadar dapat dimunculkan ke dalam alam sadar sehingga tidak menimbulkan kecemasan. Karena super ego dapat menjalankan fungsinya.
Konsep ini pada hakekatnya berasal dari pandangan Freud tentang symptom neurotik yang diakibatkankarena adanya ketegangan yang tidak tersalurkan yang berkaitan dengan memori masa lalu. Untuk itu memori masa lalu , terutama masa kecil, perlu dan menduiduki tempat penting dalam pendekatan ini.
Pada Psikoanalisis klasik, terapi dilakukan dimana klien bersandar pada bangku atau berbaring pada balai-balai dan analist (istilah yang biasa digunakan Psikoanalisis untuk ganti terapist, atau konselor) berada di sampingnya. Agar klien dapat mengungkap seluruh pengalamannya, analist menggunakan hipnotis. Tapi cara ini telah ditinggalkan Freud sendiri dan menggantinya dengan asosiasi bebas. Klien diajak menceritakan tentang pikiran, perasaaan, persepsi, atau pengalamannya di masa kecil, walau terkadang tidak relevan, tidak tepat, atau tidak logis dengan masalahnya sekarang.
Dalam pendekatan ini.klien lebih banyak melibatkan diri untuk bercerita dan mengungkapkan segenap yang terlintas dalam pikirannya kepada analist, termasuk menceritakan mimpi-mimpi yang dialaminya. Sementara analist lebih cenderung pasif, atau membiarkan diri anonim, Istilah Corey (1988). Hal ini dilakukan tentu setelah terbinanya hubungan dan klien ada kemauan untuk sembuh. Tugas dari analist bukan hanya mendengar saja, akan tetapi menafsirkan ungkapan klien, memperhatikan isyarat-isyarat khusus atau penolakan klien, memperhatikan kesenjangan atau ketidakcocokan dalam keseluruhan cerita klien, membandingkan dan menganalisis kepribadian klien dengan teori, dan menyampaikan tafsiran atau kesimpulan analisis tentang cerita klien pada waktu yang tepat.
Bila penafsiran tersebut diterima klien, cerita dilanjutkan lagi, dan mungkin klien bagi analist mengajak klien menceritakan mimpi-mimpinya, dan analist menafsirkan symbol konflik dan mimpi tersebut. Begitulah seterusnya, hingga terbentuk transferensi positif klien pada analist. Bila penilaian analist transferensi tersebut telah terbina, konseling dapat dihentikan karena klien akan datang kembali.
Dengan cara demikian, pengalaman klien yang semula tidak disadarinya dapat dimunculkan ke alam sadarnya dan pada gilirannya memfungsikan id, ego, dan super ego secara serasi dan seimbang.
Untuk itu, analist dalam Psikoanalisis paling kurang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Menciptakan iklim yang mendorong klien dapat mengungkapkan dirinya kepada analist secara bebas.
b. Menafsirkan pengalaman masa lalu dan mimpi-mimpinya sehingga klien dapat menangkap makna dan kaitannya dengan kehidupan sekarang.
c. Membantu klien dalam mengatasi penolakan dirinya pada aspek tertentu.
d. Menumbuhkan kemandirian klien secara berangsur-angsur dengan memberikan dukungan terapeutik kepada klien.
e. Mendorong tumbuh dan terciptanya transferensi positif klien terhadap konselor melalui komunikasi yang tepat dengan mempelajari respons klien.
Sementara kepada klien dituntut oleh Belkin (19750 untuk berperan atau menempatkan dirinya sebagai berikut :
a. Klien seyogyanya untuk mengungkapkan seluruh pikiran dan perasaan dalam proses konseling tanpa menyembunyikannya kepada analist.
b. Klien seyogyanya untuk tidak kuatir apalagi takut mendapat malu, penghinaan, gaduh, atau hilangnya kesempatan klien akibat ungkapannya kepada analist.
c. Klien seyogyanya berusaha mewujudkan keputusan di luar konseling.

G. Teknik dan Proses Terapi
Psikoanalisis menggunakan berbagai teknik dalam terapinya. Di antara teknik yang digunakan itu sebagaimana diungkapkan Nelson-Jones (1982), Corey (1988), Shertzer & Stone (1980) adalah teknik :
1. Asosiasi Bebas (Free Asosiation)
2. Penafsiran (Interpretation)
3. Analisis Mimpi (Dream Analysis)
4. Analisis Penolakan (Analysis of Resistance)
5. Transferensi (Transference)

1.Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah pemanggilan kembali pengalaman masa lampau yang berkaitan dengan situasi traumatik dengan cara memberikan kepada klien untuk mengungkapkan secara bebas apa yang dipikirkan atau dirasakannya. Cara ini sering juga disebut dengan katarsis.
Asosiasi bebas dilandasi oleh assumsi, bahwa dengan memberikan kesempatan yang luas bagi klien untuk memilih dan membicarakan tentang pengalaman masa lampaunya akan memungkinkan terungkapnya peristiwa penting yang sudah tersimpan beku dalam alam ketaksadarannya.
Selama asosiasi bebas berlangsung, analist mendengarnya penuh perhatian atau mendengar dengan” telinga ketiga” sehingga analist dapat menangkap makna dari cerita klien tersebut, yang kemudian dianalisis dan ditafsirkan dan pada gilirannya disampaikan kepada klien. Pernyatan yang bisa digunakan untuk tercitanya asosiasi bebas ini misalnya: Apakah yang kamu pikirkan sekarang ? Apakah pengalaman yang paling berkesan selama hidup Anda ? Peristiwa tragis apa yang pernah kamu alami selama hidup ini ? Pernahkah Anda terkesan amat bahagia dalam hidup ini ?. Bila klien menjawab ada, analis dapat meminta klien “coba ceritakan!”


2. Penafsiran
Penafsiran adalah usaha memberi makna dari suatu perilaku atau ungkapan klien sehingga yang semula tidak disadarinya dapat muncul sebagai bagian dari kesadaran. Asumsi penafsiran ialah, bahwa penafsiran yang jitu dan tepat waktu dapat menimbulkan insight yang mampu menumbuhkan wawasan baru klien. Untuk itu, penafsiran hendaknya: (1) diberikan segera setelah klien membicarakan hal tersebut sehingga mudah disadarinya, (2) tidak dipaksakan , dan (3) diperkirakan terjangkau oleh pemahaman klien.

3. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah usaha menyingkap makna atau sombol-simbol yang terdapat konflik yang dialami klien. Ini didasari oleh assumsi, bahwa kebutuhan, hasrat, dan kecemasan klien terefleksi dalam simbol-simbol mimpi, karena itu, “ mimpi adalah jalan utama untuk memasuki alam tak sadar” klien.
Analisis mimpi ada dua bentuk : analisis isi mimpi yang bersifat manifestasi dan latent. Analisis isi mimpi yang termanifestasikan adalah analisis terhadap motif yang terungkap jelas dan disadari. Sedangkan yang latent adalah analisis terhadap isi mimpi yang mengandung hasrat, kebutuhan dan kecemasan yang samar-samar dan biasanya dikendalikan oleh alam tak sadar. Oleh karena itu, isi mimpi yang latent hendaknya dapat diungkap menjadi yang termanifestasikan.

4. Analisis dan Penafsiran Penolakan
Didasari, bahwa pada asosiasi bebas tidak semua masalah terungkap. Adakalanya disebabkan oleh kekhuatiran klien akan akibat pengungkapan tersebut sehingga egonya menekan dan melakukan tindakan defensif. Karena itu penolakan ini dapat merintangi proses konseling, maka analist perlu menggunakan teknik ini.
Bentuk penolakan bisa terjadi dalam bentuk : (1) klien tidak mengungkap secara utuh, (2) menolak terciptanya transferensi, (3) dorongan id mencari kesenangan dan menghindari ungkapan yang tidak menyenangkan , dan (4) adanya rasa bersalah atau malu dari super ego. Untuk itu analist perlu melakukan analisis terhadap bentuk-bentuk penolakan tersebut, dan dituntut mengemukakannya kepada klien, terutama sekali penolakan yang ketara.

5.Transferensi
Transferensi adalah perasaan, pikiran, atau sikap klien pada masa lalu yang dihidupkan kembali pada proses konseling, sehingga tokoh yang memainkan peranan pada masa lalu tersebut dialihkan kepada analist. Transferensi dapat berbentuk positif atau negative (sayang atau benci)
Dengan adanya pengalihan tokoh masa lalu kepada analist akan memungkinkan distorsi kehidupan masa lalu diselesaikan, karena klien dapat bereaksi kepada analist sebagaimana reaksinya masa lalu, dan pada gilirannya konflik dan penyebabnya dapat diselesaikan pada masa sekarang.
Kelima teknik yang dikemukakan diatas, tercangkup pada keseluruhan proses konseling. Gilliland et al.(1984) dan Arlow dalam Corsini Ed. (1984) menggambarkan proses konseling Psikoanalisis berlangsung 4 tahap, yaitu:
1. Tahap pembukaan
2. Mengembangkan Transferensi
3. Penanganan
4. Pemecahan Transferensi

1. Tahap Pembukaan
Tahap pembukaan adalah tahap awal dari konseling. Tahap ini terdiri atas dua bagian. Pada bagian pertama disebut analisis situasi, dimana klien-analisist telibat pembicaraan awal yang menyangkut kontrak. Analist mempelajari kesulitan klien dengan meminta klien menceritakan kondisi dan latar belakang kehidupannya, terutama kesulitan yang dihadapinya sekarang. Kemudian klien-analist membicarakan kontrak konseling dengan menjelaskan tugas masing-masing, serta termasuk negosiasi tentang imbalan jasa, lamanya proses tiap konseling, serta frekuensi dan jadwal pertemuan.
Setelah bagian pertama selesai, klien diminta untuk melanjutkan pembicaraan tentang kesulitan atau keluhan yang dialaminya sekarang. Analist berusaha menangkap thema pokok klien yang sebenarnya, terutama unsur-unsur unconscious klien. Untuk itu, dengan teknik asosiasi bebas klien diajak untuk menceritakan pengalaman masa lalunya. Analist memberikan tafsiran dan menyampaikannya kepada klien.

2. Tahap Mengembangkan Transferensi
Tahap ini merupakan tahap penilaian terhadap hubungan yang telah terbina. Perasaan,persepsi, dan respons klien terhadap analist dinilai.Hasilnya ditunjukan kepada klien,bahwa pengalaman masa lalu terlihat pengaruhnya pada masa sekarang dengan memberi contoh atas tranferensi yang telah dilakukan klien. Sehingga klien dapat membedakan antara fantasi dengan realitas. Tapi analist dituntut waspada terjadinya contra -transferenesi , yaitu justru analist yang melakukan transferensi kepada klien.
Analisis dan pengembangan transferensi ini dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan dan dengan cara berbeda. Sehingga pengalaman masa lalu yang tak disadari dapat diketahui pengaruhnya muncul sebagai bagian dari kesadaran klien.

3. Tahap Penanganan
Tahap inimerupakan lanjutan dari tahap sebelumnya. Analist mungkin saja melakukan analisis transferensi kembali, namun analisis transferensi diarahkan kepada masalah yang dekat atau inti dari kondisi klien sekarang. Sehingga dapat melahirkan pemahaman klien atas konflik yang dihadapinya.

H. Kemungkinan dan Tantangan Penerapan Psikoanalisis
Setelah mempelajari Psikoanalisis, persoalan sekarang muncul,yaitu mungkinkah Psikoanalisis diterapkan ? Jawabnya tak bisa dikotomi” ya” atau “ tidak”, karena disamping ada keunggulan dan kemungkinan penerapannya, juga terdapat tantangannya.
Tantangan penerapan Psikoanalisis berpangkal pada pandangannya yang deterministik, bahwa kondisi individu sekarang dipengaruhi atau merupakan pengulangan masa lalunya. Sehingga factor kekinian dan kedisinian (here and now) tidak menjadi pertimbangan dari Psikoanalisis. Hal ini penting, karena pengalaman manusia yang diperolehnya sepanjang hayat dapat mempengaruhi kepribadiannya.
Dipihak lain, penerapan Psikoanalisis selain membutuhkan keterampilan prima dari analist, juga membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak menguntungkan bagi klien dan kehidupan dewasa ini yang tengah berpacu dengan waktu. Apalagi bila hal ini dibawa ke sekolah. Konseling Psikoanalisis yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun akan terasa kurang efisien pada sekolah yang pada umumnya mempunyai waktu terbatas.
Namun disadari pula, terapi Psikoanalisis mempunyai teknik yang cocok dengan teori kepribadiannya, serta efektif dalam mencapai tujuannya (Shertzer & Stone, 1980). Dan Franz Alexander (1965) berkomentar, bahwa Psikoanalisis mampu mengatasi : (1) Keengganan klien mengungkapkan dirinya kepada analist karena tertanamnya hasrat untuk sembuh dari klien,(2) ketidakmampuan mengungkapkan diri diatasi dengan teknik asosiasi bebas, (3) ketidakpahaman analist akan klien dapat dikurangi besarnya kesempatan menganalisisnya, dan (4) perbedaan (gap) klien-analist dapat dikurangi dengan adanya proses yang lama.
Dengan demikian, penerapan terapi Psikoanalisis untuk sekolah (konseling) dapat dilakukan dengan berusaha menekan dan meminimalkan kelemahannya. Artinya, adaptasi Psikoanalisis oleh konselor yang kreatif akan memungkinkan penerapan teknik Psikoanalisis ini di sekolah, terutama sekali bila konselor memandang determinasi pengalaman masa lalu kliennya sangat menonjol pada klien yang dihadapinya.

I. Pertanyaan dan Tugas
Berikut ini ada pertanyaan tentang uraian di atas yang perlu anda selesaikan setelah anda membaca materi ini.Diantaranya:
1. Kondisi apa yang menyebabkan Freud merasa perlu mengembangkan asosiasi bebas (free association) ?
2. Bagaimana mekanisme id, ego, dan super ego dalam membentuk kepribadian individu, serta apa fungsi super ego di tengah-tengah trikhotomi Freud tersebut ?
3. Coba dirumuskan sekitar 40 kata tentang kepribadian yang mantap menurut Freud?
4. Apa tujuan terapi Psikoanalisis ? Apa peranan analist dan klien ?
5. Teori Freud pada pokoknya mempunyai 5 prinsip. Salah satu dari prinsip itu (prinsip realitas) telah ada contoh yang eksplisit. Sekarang anda diminta untuk membuat contoh-contoh masing-masing prinsip tersebut, dua contoh untuk masing-masingnya !
6. Ada beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego manusia. Salah satu bentuk mekanisme (identifikasi) telah ada contohnya. Anda diminta untuk membuat contoh eksplisit tentang mekanisme yang lainnya,masing-masing 2 contoh !
7. Dalam materi dipergunakan berbagai istilah ( tunggal atau majemuk). Anda diminta menyusun paling kurang 40 buah istilah yang dipergunakan pada bacaan di atas , secara alpabetis, dan uraikan maksud atau artinya baik berdasarkan materi ini atau berdasarkan buku lain (kamus) !




Daftar Bacaan
Alexander, Franz.1965. Azas-azas Pichoanalisa. Terj. Saini Karnamisastra . Bandung :
CV Komara.
Arlow, Jacob A. 1984.“ Psychoanalyis” in Corsini Ed. Current Psychoterapies. Itasca :
Peacock Publishers, Inc.
Beikin, Gary S. 1975. Practical Counseling in the Schools. Duburgue: William C. Brown.
Bertens,k. 1979. Memperkenalkan Psikoanalisis. Jakarta : Gramedia.
Bischof, L. J. 1970. Interpreting Personality Theories. 2Ed.Singapura : Time printers.
Corey. Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Terj. E.Koswara.
Bandung:Eresco.
Dahlan, M. D.1985. Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan (Konseling). Bandung: CV. Diponegoro.
Gilliland, Burl E.1984. Theories and Strategies in Counseling and Psychoterapy.
Englewood Cliffs : Printice- Hall , Inc.
Hall,Calvin S. Sigmund Freud: Suatu Pengantar ke dalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud.
Terj.Tasrif. Jakarta : PT Pembangunan.
Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner.1981. Theories of Personality. 3Ed. New York: Johan Wiley & Sons.
Nelson-Jones, Richard. 1982. The Theory and Practice of Counseling Psychology.
London : Holt Renehart and Winston.
Peck & Whitlow, David.1975. Approaches to Personality Theory. Bungay: Methuen
& Co. Ltd.
Pervin,Lawrence A. 1980. Personality : Theory Assessment and Reseach. New York :
John Wiley & Sons, Inc.
Shertzer, Bruce & Stone, Shelly C. 1980. Fundamental of Counseling.3Ed. Boston:
Houghton Mifflin Company.
Suryabrata, Sumadi. 1986. Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV. Rajawali.
Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan