Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » , » Otitis Media Akut (Infeksi telinga Pada Anak)

Otitis Media Akut (Infeksi telinga Pada Anak)


  • Infeksi-infeksi telinga adalah kondisi-kondisi yang melibatkan dan seringkali peradangan dari area-area berbeda dari telinga.
  • Paling sering berasal dari infeksi virus, jamur dan bakteri. Pada kebanyakan kasus-kasus, infeksi-infeksi telinga adalah tidak serius dan hilang dengan sendirinya. Bagaimanapun, infeksi-infeksi bakteri dapat memerlukan perawatan dengan antibiotik-antibiotik. Dibiarkan tidak terawat, infeksi-infeksi ini dapat menjurus ke komplikasi-komplikasi serius, terutama untuk anak-anak kecil. 
  • Infeksi ini sering terjadi pada penderita alergi yang sering mengalami infeksi berulang atau sering sakit batuk pilek hilang timbul berulang-ulang.
Infeksi-infeksi telinga dapat terjadi pada telinga luar, tengah dan dalam. Telinga luar adalah bagian telinga yang tampak. Itu termasuk keseluruhan bagian luar telinga (auricle), yang terdiri dari tulang rawan dan kulit, dan daun telinga. Telinga luar juga termasuk saluran telinga (jalan terus yang membawa suara dari luar tubuh ke gendang telinga). Gendang telinga (tympanic membrane) adalah suatu membran tipis yang berlokasi pada ujung paling dalam dari saluran telinga yang memisahkan telinga luar dan telinga tengah.
Telinga tengah adalah ruangan kecil sebesar kacang polong berlokasi tepat dibelakang selaput gendang telinga. Itu secara normal terisis dengan udara yang masuk ke area itu melalui saluran-saluran eustachian/eustachian tubes (kanal-kanal yang pergi dari belakang hidung dan tenggorokan menuju telinga tengah). Saluran-saluran eustachian (kadangkala disebut saluran-saluran auditory) mencegah penumpukan tekanan didalam telinga-telinga. Mereka umumnya tetap tertutup, namun terbuka selama menelan dan menguap untuk mengimbangi tekanan udara pada telinga tengah dengan tekanan udara diluar telinga. Telinga tengah juga mengandung tulang-tulang kecil yang mengirim getaran-getaran dari selaput gendang telinga ke telinga dalam.
Telinga dalam terdiri dari cochlea (struktur yang mengandung organ yang diperlukan untuk mendengar) dan labyrinth (rongga-rongga saling berhubungan yang membantu memelihara keseimbangan). Syaraf yang berakhir pada telinga dalam merubah getaran-getaran suara kedalam signal-signal menuju ke otak yang mengizinkan terjadinya pendengaran.
Kebanyakan infeksi-infeksi telinga terjadi pada telinga luar atau tengah – infeksi-infeksi telinga dalam adalah jarang. Infeksi-infeksi telinga tidak menular. Bagaimanapun, infeksi-infeksi virus (seperti selesma, influensa) yang dapat mendahuluinya adalah menular dan dapat menjurus ke infeksi-infeksi telinga. Infeksi-infeksi telinga adalah lebih umum pada anak-anak daripada orang-orang dewasa karena saluran-saluran mereka lebih pendek dan sempit, membuat mereka lebih sulit untuk mengalir. Sebagai tambahan, jaringan adenoid (adenoid tissue) dibelakang tenggorokan lebih besar dan dapat menghalangi tabung-tabung eustachio.
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif,  yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan lambat.
 

 Otitis Media Akut,  otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong  dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering.
MEKANISME TERJADINYA
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).
 Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.1 Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat,  diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun.4 Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.
Penyebab
  • Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri.
  • Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya.
  • Virus ditemukan pada 25% kasus da  da dan n kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri.
  • Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.   
 Anak Lebih Mudah Terserang OMA
Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal
  • sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
  • saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
  • adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak – anak umumnya keluhan berupa
  • rasa nyeri di telinga dan demam.
  • Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
  • Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penih.
  • Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit.

Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.
  • Penyakitnya muncul mendadak (akut)
  • Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
    • menggembungnya gendang telinga
    • terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga
    • adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga
    • cairan yang keluar dari telinga
  • Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
    • kemerahan pada gendang telinga
    • nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal 
Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan, mual dan muntah, serta rewel.4,6,7 Namun gejala-gejala ini (kecuali keluarnya cairan dari telinga) tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata.6
Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop (alat untuk memeriksa liang dan gendang telinga dengan jelas).4 Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga.
Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara).6 Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa.4
Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosentesis (penusukan terhadap gendang telinga).6 Namun timpanosentesis tidak dilakukan pada sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis antara lain adalah OMA pada bayi di bawah usia enam minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak memberi respon pada beberapa pemberian antibiotik, atau dengan gejala sangat berat dan komplikasi.8
OMA harus dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Untuk membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut.4
Gejala dan tanda
OMA
Otitis media dengan efusi
Nyeri telinga, demam, rewel
+
-
Efusi telinga tengah
+
+
Gendang telinga suram
+
+/-
Gendang yang menggembung
+/-
-
Gerakan gendang berkurang
+
+
Berkurangnya pendengaran
+
+
Penanganan
Antibiotik
  1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.
  2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran.
  3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan.4,6 American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut:
Usia
Diagnosis pasti
Diagnosis meragukan

< 6 bln
Antibiotik
Antibiotik
6 bln – 2 th
Antibiotik
Antibiotik jika gejala berat; observasi jika gejala ringan
 2 thn
Antibiotik jika gejala berat; observasi jika gejala ringan
Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C.
Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi.
British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah.
Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.
  • Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi.
  • Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir.
  • WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg.
  • AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik.
  • Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.
  • Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya:
  • Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.4
  • Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime.
  • Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin
  • Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim.
  • Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin.
  • Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari.
  • Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri, memiliki risiko yang lebih besar. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. Karenanya, pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua.  
  • Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.
  • Pada usia enam tahun ke atas, pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Di Inggris, anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari.
  • Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri.
Analgesia/pereda nyeri
  • Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).
  • Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen.
  • Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna.  
Obat lain
  • Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak.
  • Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan.
  • Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.
  • Cairan yang keluar harus dikultur.
  • Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup.4
Pencegahan
Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
  • pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak,
  • pemberian ASI minimal selama 6 bulan,
  • penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring,
  • dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
  • Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.
Komplikasi
  • Otitis media kronik ditandai dengan riwayat keluarnya cairan secara kronik dari satu atau dua telinga.
  • Jika gendang telinga telah pecah lebih dari 2 minggu, risiko infeksi menjadi sangat umum.
  • Umumnya penanganan yang dilakukan adalah mencuci telinga dan mengeringkannya selama beberapa minggu hingga cairan tidak lagi keluar.
  • Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah, termasuk otak. Namun komplikasi ini umumnya jarang terjadi.
  • Salah satunya adalah mastoiditis pada 1 dari 1000 anak dengan OMA yangtidak diobati.
  • Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.
  • Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi pendengaran anak serta menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa.
  • Otitis media dengan efusi didiagnosis jika cairan bertahan dalam telinga tengah selama 3 bulan atau lebih.
Komplikasi yang serius adalah:
·  Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)
·  Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
·  Kelumpuhan pada wajah
·  Tuli
·  Peradangan pada selaput otak (meningitis)
·  Abses otak.Tanda-tanda terjadinya komplikasi:
  • sakit kepala
  • tuli yang terjadi secara mendadak
  • vertigo (perasaan berputar)
  • demam dan menggigil.

Rujukan
Beberapa keadaan yang memerlukan rujukan pada ahli THT adalah;
  • Anak dengan episode OMA yang sering. Definisi “sering” adalah lebih dari 4 episode dalam 6 bulan.4 Sumber lain menyatakan “sering” adalah lebih dari 3 kali dalam 6 bulan atau lebih dari 4 kali dalam satu tahun
  • Anak dengan efusi selama 3 bulan atau lebih, keluarnya cairan dari telinga, atau berlubangnya gendang telinga
  • Anak dengan kemungkinan komplikasi serius seperti kelumpuhan saraf wajah atau mastoiditis (mastoiditis: peradangan bagian tulang tengkorak, kurang lebih terletak pada tonjolan tulang di belakang telinga)
  • Anak dengan kelainan kraniofasial (kraniofasial: kepala dan wajah), sindrom Down, sumbing, atau dengan keterlambatan bicara7
  • OMA dengan gejala sedang-berat yang tidak memberi respon terhadap 2 antibiotik

Referensi


Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Oleh : Muhammad al-Fatih II
Otitis media supuratif akut (OMA) adalah otitis media yang berlangsung selama 3 minggu atau kurang karena infeksi bakteri piogenik. Bakteri piogenik sebagai penyebabnya yang tersering yaitu Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, dan Pneumokokus. Kadang-kadang bakteri penyebabnya yaitu Hemofilus influenza, Escheria colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aerugenosa. Hemofilus influenza merupakan bakteri yang paling sering kita temukan pada pasien anak berumur dibawah 5 tahun.
otitis media adalah infeksi pada rongga telinga tengah , sering diderita oleh bayi dan anak-anak, penyebabnya infeksi virus atau bakteri. Pada penyakit bawaan spt down syndrome dan anak dgn alergi sering terjadi. Terapi antibiotika dan kunjungan ke dr. tht dalam proses perbaikan sangat disarankan.
Komplikasi yang bisa timbul jika otitis media tidak segera diobati adalah mastoiditis, perforasi gendang telia dgn cairan yang terus menerus keluar. Komplikasi lebih lanjut seperti infeksi ke otak walau jarang masih mungkin terjadi, sumbatan pembuluh darah akibat tromboemboli juga bisa terjadi.
Disarankan segera bawa anak anda bila rewel dan memegang-megang telinga, tidak nyaman merebah demam dan keluar cairan pada telinga. Bila anda memeriksakan secara dini otitis media bisa dicegah sebelum memberikan kerusakan lebih lanjut dengan paracentesis atau miringotomi.
Faktor pencetus terjadinya otitis media supuratif akut (OMA), yaitu :
Infeksi saluran napas atas. Otitis media supuratif akut (OMA) dapat didahului oleh infeksi saluran napas atas yang terjadi terutama pada pasien anak-anak.
Gangguan faktor pertahanan tubuh. Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. Faktor ini akan mencegah masuknya mikroba ke dalam telinga tengah. Tersumbatnya tuba Eustachius merupakan pencetus utama terjadinya otitis media supuratif akut (OMA).
Usia pasien. Bayi lebih mudah menderita otitis media supuratif akut (OMA) karena letak tuba Eustachius yang lebih pendek, lebih lebar dan lebih horisontal.
Stadium Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Ada 5 stadium otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah, yaitu :
Oklusi tuba Eustachius.
Hiperemis (pre supurasi).
Supurasi.
Perforasi.
Resolusi.
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi.
Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut (OMA) sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi.
2. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi)
Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar.
Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil.
Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi.
4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur nyenyak.
Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).
5. Stadium Resolusi
Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.
Gejala Klinik Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi. Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan umur penderita, yaitu :
Bayi dan anak kecil. Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 390C (khas), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit.
Anak yang sudah bisa bicara. Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek.
Anak lebih besar dan orang dewasa. Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran berkurang).
Terapi Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Terapi otitis media supuratif akut (OMA) tergantung stadium penyakit, yaitu :
Oklusi tuba Eustachius. Terapinya : obat tetes hidung & antibiotik.
Hiperemis (pre supurasi). Terapinya : antibiotik, obat tetes hidung, analgetik & miringotomi.
Supurasi. Terapinya : antibiotik & miringotomi.
Perforasi. Terapinya : antibiotik & obat cuci telinga.
Resolusi. Terapinya : antibiotik.
Aturan pemberian obat tetes hidung :
Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun. HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa.
Tujuan. Untuk membuka kembali tuba Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang.
Aturan pemberian obat antibiotik :
Stadium oklusi. Berikan pada otitis media yang disebabkan kuman bukan otitis media yang disebabkan virus dan alergi (otitis media serosa).
Stadium hiperemis (pre supurasi). Berikan golongan penisilin atau ampisilin selama minimal 7 hari. Golongan eritromisin dapat kita gunakan jika terjadi alergi penisilin. Penisilin intramuskuler (IM) sebagai terapi awal untuk mencapai konsentrasi adekuat dalam darah. Hal ini untuk mencegah terjadinya mastoiditis, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Berikan ampisilin 50-100 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 4 dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 3 dosis pada pasien anak.
Stadium resolusi. Lanjutkan pemberiannya sampai 3 minggu bila tidak terjadi resolusi. Tidak terjadinya resolusi dapat disebabkan berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Curigai telah terjadi mastoiditis jika sekret masih banyak setelah kita berikan antibiotik selama 3 minggu.
Aturan tindakan miringotomi :
Stadium hiperemis (pre supurasi). Bisa kita lakukan bila terlihat hiperemis difus.
Stadium supurasi. Lakukan jika membran timpani masih utuh. Keuntungannya yaitu gejala klinik lebih cepat hilang dan ruptur membran timpani dapat kita hindari.
Aturan pemberian obat cuci telinga :
Bahan. Berikan H2O22 3% selama 3-5 hari.
Efek. Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi membran timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari.
Komplikasi Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Ada 3 komplikasi otitis media supuratif akut (OMA), yaitu :
Abses subperiosteal.
Meningitis.
Abses otak.
Dewasa ini, ketiga komplikasi diatas lebih banyak disebabkan oleh otitis media supuratif kronik (OMSK) karena maraknya pemberian antibiotik pada pasien otitis media supuratif akut (OMA).
Daftar Pustaka
Sosialisman & Helmi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.
Technorati Tags: OMA, otitis Media Akut, Membrana timpani, stadium
Pembahasan
Otitis ekterna difusa

Otitis eksterna adalah penyakit yang dapat diderita oleh semua orang dan berbagai usia. Otitis eksterna biasanya ditunjukkan dengan adanya infeksi bakteri pada kulit liang telinga tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi jamur. Meskipun demikian Otitis eksterna jarang menyebabkan komplikasi yang serius. Infeksi ini ditandai dengan rasa nyeri yang hebat (Waitzman, 2004).
Otitis eksterna juga sering dihubungkan dengan adanya proses dematologi lokal atau non infeksius. Gejala-gejala yang khas pada otitis externa adalah rasa tidak nyaman pada liang telinga yang ditandai dengan eritema dan discharge yang bervariasi (Sander, 2001).
Etiologi
Pada umumnya penyebab dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri seperti Staphyilococcus aureus, Staphylococcus albus, E. colli. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyebaran yang luas dari proses dermatologis yang non-infeksius (Sander, 2001).

Patofisiologi
Otitis eksterna adalah penyakit yang sering diderita oleh semua orang. Otitis eksterna seringkali ditunjukkan adanya infeksi bakteri akut dari kulit canalis auricularis tapi juga dapat disebabkan adanya infeksi jamur. Adanya lekukan pada liang telinga dan adanya kelembaban dapat menyebabkan laserasi dari kulit dan merupakan media yang bagus untuk pertumbuhan bakteri. Hal ini sering terjadi setelah berenang dan mandi. Otitis eksterna ini sering terjadi jika suasana panas dan lembab (Waitzman, 2004).
Manifestasi Klinik
Pasien dengan otitis eksterna biasanya mengeluh adanya nyeri telinga (otalgia) dari yang sedang sampai berat, berkurangnya atau hilangnya pendengaran, tinnitus atau dengung, demam, discharge yang keluar dari telinga, gatal-gatal (khususnya pada infeksi jamur atau otitis eksterna kronik), rasa nyeri yang sangat berat (biasanya pada pasien yang imunocompopromase, diabetes, otitis eksterna maligna). Selain itu juga ditemukan adanya tanda nyeri tekan pada tragus (Waitzmann, 2004).
Otitis Eksterna Difus
Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema dengan tidak jelas batasnya serta terdapat furunkel. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Gejalanya sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadang-kadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum timpani pada otitis media. Pengobatannya ialah dengan memasukkan tampon tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan antibiotika sistemik (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Klasifikasi
Otitis Eksterna Akut
Terdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus.
1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel = Bisul)
Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit seperti folikel rambut, kalenjar sebasea dan kalenjar serumen maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus sehingga membentuk furunkel. Kuman penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Terapinya tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitrasin atau antiseptic (asam asetat 2-5% dalam alcohol 2%). Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan incise kemudian dipasang drain untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang (Sosialisman dan Helmi, 2001).


Otitis Eksterna Difus
Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema dengan tidak jelas batasnya serta terdapat furunkel. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Gejalanya sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadang-kadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum timpani pada otitis media. Pengobatannya ialah dengan memasukkan tampon tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan antibiotika sistemik (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 A. OTITIS MEDIA AKUT

I. DEFINISI
OTITIS MEDIA AKUT adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah. ( Kapita Selekta Kedokteran, 1999 )

II. KLASIFIKASI
Otitis Media terdiri atas :
1. Otitis Media Supuratif
a). Otitis Media Supuratif Akut atau Otitis Media Akut
b). Otitis Media Supuratif Kronik
2. Otitis Media Non Supuratif atau Otitia Media Serosa
a). Otitis Media Serosa Akut
b). Otitis Media Serosa Kronik
3. Otitis Media Spesifik, seperti otitis media sifilitika atau otitis media tuberkulosa
4. Otitis Media adhesiva

III. ETIOLOGI
1. Pneumococcus
2. Hemopylus influenza
3. Streptococcus

IV. PATHWAYS
Halaman berikutnya

V. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis dari Otitis Media Akut tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien, yaitu :

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Terdapat gambaran retraksi membran tympani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.
2. Stadium hiperemesis ( Presupurasi )
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran tympani atau seluruh membran tympani tampak hiperemesis atau edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih eksudat serosa sehingga sukar terlihat.
3. Stadium Supurasi
Membran tympani menonjol ke arah telinga luar akibat edemayang hebat pada mukosa telinga tengan dan hancurnya sel epitel superficial. Serta terbentuknya eksudat purulen di kavum tympani.
Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningakat, sreta nyeri ditelinga bertambah hebat. Apabila tekanan tidak berkurang akan terjadi iskemic, tromboplebitis, dan necrosis mukosa serta sub mukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dasn kekuningan pada membran tympani. Di tempat ini akan terjadi ruptur.
4. Stadium Perforasi
Karena pemberian antibiotik yang berlebihan atau virulensi kuman yang tinggi dapat terjadi ruptur membran tympani dan nanah keluar dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenaga, suhu badan menurun dan dapat tidur nyenyak
5. Stadium Resolusi
Bila membran tympani tetap utuh, maka perlahan lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka secret akan berkurang dan mongering. Bila day tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitais media akut berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan secret yang keluar terus menerus atauhilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila lebih dari 1 1/2 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisi berupa otitis media serosa bila secret menetap di kavum tympani tanpa perforasi.
Pada anak keluhan utama adalah rasa nyaeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang
tinggi.
Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada orang dewasa idapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejal khas otitis media akut adalah suhu yang tinggi (> 39,5 oC ). Gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tympani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.

VI. KOMPLIKASI
1. Mengenai mastoid
2. Intrakranial
a). Miringitis
b). Abses otak

VII. PENATALAKSANAN
Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stdium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan local atau sistemik dan antipiretik

 Stadium Oklusi§
Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba eustachius sehingga tekanan negatif ditelinga tengah hilang. Diberikan obat tetes telinga HCL efedrin 0,5 % untuk anak < 12 tahun atau HCL efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi local harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman.
 Stadium Presupurasi§
Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran tympani sudah terlihat hiperemesis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan pinisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunat atau sepalosporin. Untuk terapi awal diberikan pinisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat didalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4 x 50-100 mg/kg BB, amoxsisilin 4 x 40 mg/ kg BB/hari, atau eritromisin 4 x 40 mg/ kg BB/hari.
 Stadium Supurasi§
Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran tympani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.
 Stadium Perforasi§
Terlihat sekret banyak yang keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3 % selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari.
 Stadium Resolusi§
Membran tympani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap mungkin telah terjadi mastoiditis.


B. OTITIS MEDIA KRONIK

I. DEFINISI
OTITIS MEDIA KRONIK adalah infeksi kronik telinga tengah dengan perforasi membran tympani dan keluarnya sekret dari telinga tengah secara terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau nanah. Biasanya disertai gangguan pendengaran.

II. KLASIFIKASI
1. Benigna
2. Maligna

III. ETIOLOGI
Sebagian besar Otitis Media Kronik merupakan kelanjutan Otitis Media Akut yang prosesnya sudah berjalan lebih dari 2 bulan. Beberapa penyebab adalah terapi yang terlambat, tetapi tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh rendah atau kebersihan buruk.Bila kurang dari 2 bulan disebut subakut
Sebagian kecil perforasi membran tympani terjadi akibat trauma tengah. Kuman penyebab biasanya gram positif aerob, sedangkan pad infeksi yang telah berlangsung lama sering juga terdapat kuman gram neagtif dan anaerob.

IV. MANIFESTASI KLINIK
1. Otorhe
2. Vertigo
3. Tinitus
4. Rasa penuh ditelinga
5. Gangguan pendengaran
6. Perforasi pada marginal atau atik
7. Abses atau fistel retroaurikuler
8. Polip pada jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal dari telinga tengah
9. Kolesteatum pada telinga tengah
10. Sekret berbentuk nanah dan berbau khas

V. KOMPLIKASI
1. Abses otak
2. Labirinitis
3. Paralisis nervus fasialis

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Terlihat bayangan kolesteatum pada foto mastoid.

VII. PENATALAKSANAAN
Terapinya sering lama dan harus berulang-ulang karena :
1. Adanya perforasi membran tympani yang permanen
2. Terdapat sumber infeksi di faring, naso faring, hidung dan sinus paranasal
3. Telah terbentuk jaringan patologik yang irreversibel dalam rongga mastoid
4. Gizi dan kebersihan yang kurang
Prinsip terapi Otitis Media Kronik benigna adalah konservatif atau medikamentosa, bila sekret keluar terus diberikan obat cuci telinga yaitu H2O2 3 % selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang atau sudah tenang, dianjurkan dengan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid, tidak lebih dari 1-2 minggu karena obat bersifat ototoksik. Antibiotik oral dari golongan ampisilin dan eritromisin diberikan sebelum hasil tes resistensi diterima. Pasien dianjurkan tidak berenang dan menghindari masuknya air ke dalam telinga.
Bila sekret telah kering namun perforasi tetap ada setelah diobservasi selama 2 , maka harus dirujauk untuk miringoplasti atau tympaniplasti. Sumber infeksi harus diobati lebih dulu, kalau perlu dengan pembedahan.
Prinsip terapi Otitis Media Kronik maligna adalah pembedahan, yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa tympanoplasti. Terapi medikamentosa hanya bersifat sementara sebelum pembedahan. Operasi direncanakan secepatnya untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan dan memperkecil resiko komplikasi. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka dilakukan insisi abses tersendiri sebelum mastoidektomi.


PENGKAJIAN

Umumnya dilakukan pembedahan, yaitu mastoidektomi radikal oleh dokter ahli THT. Bila ada komplikasi abses retrourikula dan penderita jauh dari ahli, harus dilakukan insisi sementara untuk “drainage”
Beberapa hal yang penting dalam menanggulangi kasus otitis media kronik ialah
 Harus dapat membedakan jenis otitis media kronik benigna dan otitis media kronik maligna§
 Dapat memberikan pengobatan yang tepat pada otitis media kronik benigna§
 Harus dapat memilih kasus otitis media kronik maligna yang perlu segera dikirim dan memdapatkan pertolongan ahli THT§

Data yang muncul saat pengkajian :
1. Data Subyektif :
 Sakit telinga tidak pernah sembuh.*
 Keluar nanah dari telinga terus menerus dan berbau busuk.*
 Pendengaran berkurang.*
 Pembengkakan dibelakang telinga.*
 Perasaan penuh ditelinga.*
 Suara bergema dari suara sendiri.*
 Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan.*
 Gatal pada telinga.*
 Tinitus.*
 Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga.*
2. Data Obyektif:
 Penampilan umum.*
 Tanda-tanda vital.*
 Kemampuan untuk mendengar menggunakan alat bantu.*
 Kemampuan untuk membaca bibir atau menggunakan bahasa isyarat.*
 Reflek kejut.*
 Toleransi terhadap bunyi-bunyi keras.*
 Warna dan jumlah cairan yang keluar dari telinga.*
 Alergi.*
3. Pemeriksaan Penunjang
 Audiometri*
 Audiogram*
 Pemeriksaan sinar X mastiod*
 Tes garputala*
 Pemeriksaan otologis*
 Otoskopi pnuematic*
 Timpanometri*
 Elektronistagmografi*
 CT Scan*
 MRI*
 Laboratorium : Kultur terhadap patogen.*

FOKUS INTERVENSI
4. Nyeri akut berhubungan dengan retraksi membran timpani
Tujuan : Nyeri klien berkurang / hilang.
Intervensi :
a. Kaji lokasi, tipe, durasi, dan frekuensi nyeri.
b. Kaji intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri 0 – 10.
c. Kaji faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
d. Diskusikan tindakan penghilang nyeri yang efektif / tak efektif pada masa lalu.
e. Kaji kefektifan tindakan penghilang nyeri.
f. Beri posisi nyaman.
g. Anjurkan teknik reduksi nyeri dengan kompres dingin, teknik relaksasi, sentuhan.
h. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik.
i. Beri makanan lunak / cair dan hindari mengunyah.
j. Diskusikan alternatif intervensi seperti umpan balik biologis, prosedur kontrol nyeri sendiri.
k. Anjurkan dukungan keluarga / orang terdekat.
Evaluasi :
a. Klien mengungkapkan pemahaman tentang faktor penyebab nyeri.
b. Klien mendemonstrasikan keampuan untuk mengurangi atau mengontrol nyeri.

5. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketedakseimbangan labirin.
Ditandai dengan : pening, mual, muntah, nafsu makan menurun.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Intervensi :
a. Kaji status nutrisi, pola makan yang lalu, dan obat-obatan.
b. Kaji makanan yang lebih disukai, disukai, dan tidak disukai
c. Menyediakan makanan dalam lingkungan yang tenang dan menganjurkan klien makan dengan perlahan dan mengunyah dengan baik.
d. Beri posisi yang nyaman selama makan.
e. Anjurkan keluarga, anggota keluarga lain yang terlibat selama makan, makan dengan klien, membawa makanan dari rumah.
f. Pelihara lingkungan yang bersih untuk mencegah mual, anoreksia.
g. Duskusi dan ajarkan klien / anggota keluarga lain mengenai petunjuk nutrisi, pentingnya makan yang teratur dan termasuk makanan.
Evaluasi :
a. Klien mengungkapkan pengertian kekurangan nutrisi dan memperlihatkan pengetahuan masukan nutrisi yang adekuat.
b. Klien mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya.

6. Gangguan persepsi sensori pendengaran berhubungan dengan hantaran suara / udara yang diterima berkurang.
Ditandai dengan : Tinitus, menurunnya fungsi pendengaran, tuli konduktif ringan.
Intervensi :
a. Observasi tingkat penurunan pendengaran.
b. Tunjukkan cara berkomunikasi :
1). Membaca bibir
 Bicara dengan perlahan dan mengucapkannya dengan baik.§
 Jangan kuatkan suara.§
 Hanya satu orang yang bicara dalam satu waktu.§
 Berdiri sehingga klien melihat bibir perawat saat bicara.§
 Berbicaralah dengan kalimat sederhana.§
 Tunjukkan obyek percakapan bila perlu.§
 Hindari mengunyah permen waktu bicara dengan klien.§
 Ulangi pernyataan yang tidak jelas bagi klien.§
2). Bahasa isyarat
 Dalam berkomunikasi dengan klien, gunakan pensil dan kertas untuk mengganti bahasa isyarat.§
 Dapatkan kerjasama keluarga dalam komunikasi.§
3). Alat bantu pendengaran.
 Kaji kemampuan klien untuk menggunakan dan merawat alat-alat.§
 Tentukan alat bantu pada tempatnya dan hidupkan sebelum bicara.§
 Buat tekanan nada nyaman untuk klien, hindari berteriak.§
4). Catatan dan pensil.
§ Tuliskan pesan secara jelas, singkat, susunan kata-kata sederhana. Kembangkan susunan kata-kata yang seringkali digunakan dan instruksikan pasien untuk meneliti ulang.
 Sediakan waktu buat klien untuk memahami dan menjawab.§
Evaluasi :
1. Klien mengungkapkan pengertian tentang penurunan sensori pendengaran.
2. Klien mampu menggunakan alat bantu pendengaran.

7. Perubahan body image berhubungan dengan Ruptur membran tympani.
Ditandai dengan : Sekret berbau dan keluar dari telinga.
Tujuan : Body image klien tidak mengalami perubahan dan klien bisa
menerima keadaannya.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang perubahan body image.
b. Kaji mekanisme penanganan sebelumnya yang telah berhasil.
c. Sediakan waktu untuk klien mengungkapkan perasaannya.
d. Demonstrasikan penerimaan perasaan klien.
e. Beri lingkungan yang tenang dan memfasilitasi.
f. Berikan penghargaan dan dorongan.
g. Tingkatkan dukungan melalui orang terdekat.
h. Bantu klien dalam diskusi untuk menerima perubahan body image.
Evaluasi :
1. Klien mengungkapkan penerimaan terhadap perubahan fungsi tubuhnya.
2. Klien mengungkapkan minat dan keinginan untuk melanjutkan aktivitas dan interaksi sosial.
3. Klien menggunakan sistem pendukung rumah sakit dan keluarga.

8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang OMA yang tepat.
Tujuan : Pengetahuan klien tentang penatalaksanaan OMA meningkat.
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan klien.
b. Berikan informasi berkenaan dengan kebutuhan klien.
c. Susun bersama hasil yang diharapkan dalam bentuk kecil dan realistik untuk memberikan klien tentang keberhasilan.
d. Beri upaya penguatan pada klien.
e. Gunakan bahasa yang mudah dipahami.
f. Sediakan waktu untuk pertanyaan.
g. Dapatkan umpan balik selama diskusi dengan klien.
h. Pertahankan kontak mata selama diskusi dengan klien
i. Berikan informasi langkah demi langkah dan lakukan demonstrasi ulang bila mengajarkan prosedur.
j. Berikan pujian atau reinforcement positif pada klien.
Evaluasi :
1. Klien menyatakan pemahaman tentang pemberian informasi.
2. Klien mampu mendemonstrasikan prosedur dengan tepat.
Edi Nurse,Cht
Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah.
PENYEBAB

Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia.

GEJALA

Gejalanya bervariasi, tergantung kepada lokasi perforasi gendang telinga:

   1. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif.
   2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

Komplikasi yang serius adalah:

    * Peradangan telinga dalam (labirintitis)
    * Kelumpuhan wajah
    * Infeksi otak.

Pembentukan kolesteatoma (penimbunan bahan putih yang menyerupai kulit) di telinga tengah. Kolesteatoma menyebabkan kerusakan tulang dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi yang serius.

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau ct scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga.

PENGOBATAN

Pada serangan otitis media kronis, dokter akan membersihkan saluran telinga dan telinga tengah dengan menggunakan penghisap dan kapas kering. Kemudian ke dalam telinga tengah dimasukkan cairan asam asetat dan hydrocortisone. Serangan yang lebih hebat diatasi dengan antibiotik per-oral (melalui mulut). Biasanya dilakukan timpanoplasti untuk memperbaiki gendang telinga dan jika rantai tulang pendengaran mengalami kerusakan, bisa diperbaiki secara bersamaan. Kolesteatoma diangkat melalui pembedahan. Jika kolesteatoma tidak dibuang, maka perbaikan telinga tengah tidak dapat dilakukan.

PENCEGAHAN

Pengobatan infeksi telinga akut secara tuntas bisa mengurangi resiko terjadinya infeksi telinga kronis
Definisi

Perforasi (robek) gendang telinga terjadi karena lubang atau robekkan pada gendang telinga, yaitu suatu selaput tipis yang membatasi liang telinga luar dan telinga tengah. Robeknya gendang telinga dapat menyebabkannya gangguan pendengaran dan keluarnya cairan dari liang telinga.
Deskripsi

Gendang telinga (selaput timpani) adalah selaput tipis yang membatasi telinga luar dengan telinga tengah, akan bergetar saat gelombang suara menggetarkan gendang telinga. Telinga tengah dihubungkan dengan rongga hidung melalui suatu saluran yang disebut tuba Eustachius.

Dalam fungsinya sebagai penghantar suara, gendang telinga juga melindungi telinga tengah dari infeksi bakteri. Jika gendang telinga mengalami perforasi maka bakteri dengan mudah masuk ke telinga tengah sehingga menyebabkan infeksi.

Biasanya, semakin besar perforasi yang terjadi maka gangguan pendengaran sementara yang terjadi lebih berat. Lokasi perforasi pada gendang telinga juga menentukan derajat gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran yang berat juga dapat dikarenakan retaknya tulang tengkorak yang mempengaruhi tulang-tulang pendengaran di telinga tengah. Perforasi gendang telinga yang disebabkan karena suara yang nyaring dan kuat menyebabkan tinitus (suara berdenging) dan biasanya disertai dengan gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Setelah beberapa saat, gangguan pendengaran ini akan membaik dan tinitus akan menghilang dalam beberapa hari.

Penyebab dan Gejala-Gejala

Kerusakkan gendang telinga terjadi akibat trauma langsung. Hal-hal yang dapat menyebabkan robeknya gendang telinga antara lain:

    * kapas lidi untuk membersihkan telinga atau benda-benda lain yang dimasukkan ke dalam telinga
    * pukulan pada telinga dengan menggunakan telapak tangan
    * akibat retaknya tulang tengkorak
    * akibat ledakkan yang dasyat atau bunyi kuat lainnya

Dapat juga dikarenakan infeksi pada telinga tengah dimana terjadi tekanan akibat terbentuknya cairan pada telinga tengah. Jika gendang telinga robek akibat tekanan karena infeksi telinga, maka keluar cairan infeksi kadang-kadang berdarah dari liang telinga.

Dalam keadaan tertentu, dokter akan membuat suatu lubang kecil pada gendang telinga untuk menyeimbangkan tekanan pada telinga tengah dan telinga luar sehingga mencegah gendang telinga robek sendiri akibat perbedaan tekanan tersebut.

Gejala-gejala yang dirasakan adalah rasa sakit pada telinga, rasa sakit ini semakin kuat atau mendadak mereda kemudian diikuti dengan keluarnya cairan bening, berdarah atau cairan nanah, gangguan pendengaran atau suara berdenging pada telinga.

Diagnosis

Dokter dapat memastikan robeknya gendang telinga dengan melihat secara langsung menggunakan otoskop. Tes pendengaran juga menunjukkan adanya gangguan pendengaran.

Terapi

Perforasi gendang telinga biasanya akan menutup sendiri dalam waktu 2 bulan. Diberikan antibiotika untuk mencegah infeksi. Obat antinyeri diberikan untuk mengatasi keluhan rasa sakit pada telinga.

Adakalanya ditambalkan suatu kertas khusus yang diletakkan pada gendang telinga dan dibiarkan hingga gendang telinga menutup kembali. Diperlukan 3 atau 4 lapis kertas sebelum perforasi gendang telinga menutup kembali secara sempurna. Bila gendang telinga tidak menutup sendiri, maka dilakukan tindakan pembedahan (timpanoplasti).

Jagalah agar telinga tetap bersih dan kering selama proses penyembuhan gendang telinga; penderita harus menyumbat liang telinganya dengan kapas saat mandi atau keramas sehingga mencegah air masuk ke dalam liang telinga. Rasa sakit pada telinga dapat diatasi dengan kompres air hangat.

Prognosis

Biasanya perforasi gendang telinga akan menutup kembali. Gangguan pendengaran yang terjadi bersifat sementara dan akan normal kembali.

Pencegahan

Hindarilah memasukkan benda-benda ke dalam telinga yang mengalami perforasi untuk tujuan membersihkannya. Bila ada benda asing pada liang telinga, biarkanlah dokter yang mengeluarkannya.

Pengobatan yang tepat setiap infeksi pada telinga adalah suatu cara untuk menghindari robeknya gendang telinga.








Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan