Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » » TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KEGIATAN KELOMPOK DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KEGIATAN KELOMPOK DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompokk dalam rangka bimbingan dan konseling melalui pendekatan kelompok adalah amat penting, terutama bagi para calon pemimpin kelompok (dalam hal ini guru pembimbing). Berbagai ahli telah mengenali tahap-tahap perkembangan itu. Pada umumnya ada empat tahap perkembangan, yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pengakhiran. Tahap-tahap ini merupakan suatu kesatuan dalam seluruh kegiatan kelompok.
Disamping keempat tahap itu masih ada yang disebut tahap awal. Tahap awal berlangsung sampai berkumpulnya para (calon) anggota kelompok dan dimulainya tahap pembentukan.
Uraian berikut ini akan mengemukakan secara ringkas gambaran dari keempat tahap setelah tahap awal tersebut.

B.     Sitematika Penulisan Makalah
a.       Bagaimana tahap I: Pembentukan itu ?
b.      Bagaimana tahap II: Peralihan itu ?
c.       Bagaiaman tahap III: Kegiatan itu ?
d.      Bagaimana tahap IV: Pengakhiran itu ?

C.    Tujuan Penyusunan Makalah
Makalah ini disusun bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa secara terperinci tentang tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan dan konseling.

D. Alasan Pembahasan Topik
Pada kesempatan ini penyusun makalah membahas tentang tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan dan konseling  karena sebagian mahasiswa masih banyak yang belum mengetahui tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan dan konseling secara terperinci atau secara khususnya.           





























BAB II
PEMBAHASAN


A.    Tahap I: Pembentukan
Berkat hasil kegiatan awal maka dapat dimulailah pengumpulan para (calon) anggota kelompok dalam rangka kegiatan kelompok yang direncanakan.

1.      Pengenalan dan Pengungkapan Tujuan
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok.
Dalam tahap pembentukan ini peranan pemimpin kelompok hendaknya memunculkan dirinya sehingga tertangkap oleh para anggota sebagai orang yang benar-benar bisa dan bersedia membantu para anggota kelompok mencapai tujuan mereka. Peranan ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karasa hendaknya benar-benar terwujud. Di sini pemimpin kelompok perlu :
a.       menjelaskan tujuan umum yang ingin dicapai melalui kegiatan kelompok itu dan menjelaskan cara-cara yang hendaknya dilalui dalam mencapai tujuan itu.
b.      Mengemukakan tentang diri sendiri yang kira-kira perlu untuk terselenggarakannya kegiatan kelompok secara baik (antara lain memperkenalkan diri secara terbuka, menjelaskan peranannya sebagai pemimpin kelompok, dan sebagainya)
c.       Menampilkan tingkah laku dan komunikasi yang mengandung unsure-unsur penghormatan kepada orang lain (dalam hal ini anggota kelompok), ketulusan hati, kehangatan dan empati.

2.      Terbangunnya Kebersamaan
Dalam hal ini, pemimpin kelompok harus mampu menumbuhkan sikap kebersamaan dan perasaan sekelompok. Jika pada awalnya sebagian besar anggota kelompok tidak berkehendak untuk mengambil peranan dan tanggung jawab dalam keterlibatan kelompok, maka tugas pemimpin kelompok ialah membalikkan keadaan itu, yaitu merangsang dan menggairahkan sluruh anggota kelompok untuk mampu ikut serta secara bertanggung jawab dalam kegiatan kelompok.

3.      Keaktifan Pemimpin Kelompok
Peranan pemimpin kelompok dalam tahap pembentukan hendaklah benar-benar aktif. Pemimpin kelompok perlu memusatkan usahanya pada:
a.       penjelasan tentang tujuan kegiatan,
b.      penumbuhan rasa saling mengenal antar anggota,
c.       penumbuhan sikap saling mempercayai dan saling menerima,
d.      dimulainya pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok.

4.      Beberapa Teknik
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan oleh pemimpin kelompok dalam tahap ini, jika rasa keterbukaan dan keikutsertaan anggota kelompok kurang mantap.
a.       Teknik “ Pertanyaan dan Jawaban”
b.      Teknik “ Perasaan dan Tanggapan”
c.       Teknik “ Permainan Kelompok”

B.     Tahap II: Peralihan
Setelah suasana kelompok terbentuk dan dinamika kelompok sudah mulai tumbu, kegiatan kelompok hendaknya mulai tumbuh, kegiatan kelompok hendaknya dibawa lebih jauh oleh pemimpin kelompok menuju ke kegiatan kelompok yang sebenarnya. Unuk ini perlu diseleenggarakannya “tahap peralihan”.

1.      Suasana Kegiatan
Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan peranan para anggota kelompok dalam “kelompok bebas” (jika kelompok tersebut “kelompok bebas”), atau “kelompok tugas” (jika kelompok tersebut “kelompok tugs”). Kemudian pemimpin kelompok menawarkan apakah para anggota sudah siap memulai kegiatan lebih lanjut itu.

2.      Suasana Ketidak Imbangan
Suasana ketidakimbangan secara khusus dapat mewarnai tahap peralihan ini. Sering kali terjadi konflik atau bahkan konfrontasi antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok. Dalam hal ini pemimpin kelompok seyogyanya tidak menjadi kehilangan keseimbangan. Pendekatan langsung dan cara-cara main perintah saj, perlu dihindari. Tugas pemimpin kelompok dalam hal ini ialah membantu para anggota untuk menghadapi halangan, keengganan, sikap mempertahankan diri, dan ketidaksabaran yang timbul itu, agar diperoleh suasana kebersamaan dan semangat bagi dicapainya tujuan kelompok. Untuk itu, pemimpin kelompok perlu memiliki kemampuan tinggi dalam penghayatan indera maupun penghayatan rasa.
Suasana keterbukaan yang bebas dan mengijinkan dikemukakannya apa saja yang dirasakan oleh para anggota kelompok perlu dipertahankan dan dikembangkan terus. Sebagai contoh bagi para anggota, sekali lagi pemimpin kelompok perlu membuka diri secara wajar dan tepat, idak berlebih-lebihan.

3.      Jembatan Antara Tahap I dan Tahap II
Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan tahap ketiga. Jika pada tahap kedua ini masih terdapat anggota kelompok yang sukar untuk memasuki tahap selanjutnya, maka jika perlu beberapa hal pokok yang telah diuraiakan pada tahap pertama perlu diulangi, ditegaskan, dan dimantapkan kembali.

C.    Tahap III: Kegiatan
Karena Tahap Ketiga merupakan inti kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama dari pemimpin kelmpok. Kegiatan pada Tahap Ketiga itu mendapatkan alokasi waktu yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan kelompok.

1.      Tahap III sebagai Kelanjutan dari Tahap I dan Tahap II
Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga itu akan berlangsung dengan baik. Di sini prinsip tut wuri handayani dapat diterapkan.
Dalam tahap ketiga ini saling hubungan antar anggota kelompok tumbuh dengan baik. Saling tukar pengalaman dalam bidang suasana perasaan yang terjadi, pengutaraan, penyajian dan pembukaan diri berlangsung dengan bebas. Dalam suasana seperti ini kelompok membahas hal-hal yang bersifat nyata yang benar-benar sedang mereka alami. Mereka membahas hal-hal yang bersifat “sekarang/kekinian dan disini”.

2.      Dinamika Kegiatan Kelompok
Sekarang kelompok benar-benar sedang mengarah kepada pencapaian tujuan. Kelompok itu sedang berusaha menghasilkan sesuatu yang berguna bagi para anggotanya. Peranan pemimpin kelompok tetap tut wuri handayani, terus-menerus memperhatikan dan mendengar secara aktif, khususnya memperhatikan hal-hal atau masalah khusus yang di sana-sini timbul yang kalau dibiarkan membesar dapat merusak suasana kelompok yang baik. Pemimpin kelompok harus dapat melihat dengan baik dan dapat menentukan dengan tepat arah yang dituju dari setiap pembicaraan.
Dalam tahap ketiga, kegiatan “kelompok bebas” atau “kelompok tugas” ditampilkan secara nyata.


  
3.      Kegiatan “Kelompok Bebas”
a.  Pengemukaan Permasalahan
Pada tahap ketiga kegiatan “kelompok bebas” dimulai dengan pengemukaan topic permasalahan oleh anggota kelompok.setiap anggota kelompok bebas mengemukakan apa saja yang dirasakan patut atau perlu dibicarakan bersama di dalam kelompok itu.
Di samping mengemukakan masalh-masalah pribadi, anggota kelompok juga diperkenankan mengemukakan permasalahan lain atau topic-topik bahasan tertentu yang tidak menyangkut diri sendiri atau tidak bersangkut paut dengan diri, topik-topik “umum” ini dapat diambil dari keadaan lingkungan sekitar, keadaan masyarakat yang lebih luas, atau diambil dari berita-berita radio, televisi, surat kabar, dan lain sebagainya.

b.      Pemilihan Masalah/Topik
Kegiatan selanjutnya ialah membahas masing-masing maslah/topik itu satu per satu. Masalahnya ialah, semua masalah/topik itu tidak dapat dibahas sekaligus. Maka perlu ada pertimbangan dalam pemilihan maslah/topik,pertimbangan-pertimbanagan itu antara lain ialah:
1.      masalah/ topik yang dirasakan sangat berat atau berdampak cukup luas didahulukan.
2.      masalah/ topik yang paling menyangkut kepentingan kelompok didahulukan.
3.      topik yang paling menyangkut kepentingan umum didahulukan.
4.      topik yang paling hangat dibicarakan dewasa ini didahulukan.
5.      masalah/topik yang dikemukakan dahulu didahulukan.
6.      beberapa masalah/ topik yang terkait satu sama lain disatukan dan selanjutnya dibicarakan  terlebih dahulu.
7.      menetapkan topik mana yang didahulukan melalui undian.
8.      menetapkan topik mana yang didahulukan melalui pembicaraan bertingkat, berdua atau bertiga.
c.       Pembahasan Masalah/Topik
Setelah masalah atau topik yang akan terlebih dahulu dibahas ditetapkan, langkah berikutnya ialah membahas masalah atau topik tersebut. Pembahasannya di lakukan secara bebas dan dinamis. “bebas” artinya setiap anggota kelompok dapat mengemukakan apa saja berkenaan dengan masalah atau topik yang dibahas. Sedangkan “dinamis” maksudnya hal-hal yang dikemukakan oleh para anggota itu hendaknya bermanfaat dan diarahkan untuk setapak demi setapak dan berusaha mendalami atau memecahkan maslah tersebut. Pembahasan yang dilakukan oleh selurh anggota hendaknya selalu maju dan konstruktif.dalam hal ini, peranan pemimpin kelompok harus bertindak sangat tegas dan hati-hati.
Dari segi isinya pembahasan masalah atau topik itu merupakan arena untuk mengusahakan pendalaman dan pemecahan masalaha. Oleh karena itu, pembahasannya hendaklah diuasahakan setuntas mungkin sesuai dengan tingkat perkembangan para anggota kelompok. Pembahasan itu mengarah kepada penambahan dan pemantapan pembahasan dan wawasan para anggota terhadap masalah atau topik yang dibahas itu. Untuk masalah-masalah yang bersifat pribadi, pembahasannya mengarah kepada terbebaskannya anggota yang bersangkutan dari masalah yang membebaninya. Dalam kaitan “pembebasan individu dari masalah yang menghimpitnya” ini, dan juga berkenaan dengan pembinaan pribadi-pribadi yang mampu berkomunikasi secara positif, kegiatan kelompok seperti itu merupakan kegiatan konseling kelompok.

4.      Kegiatan “Kelompok Tugas”
a.       Mengemukakan Permasalahan
Berbeda dari kegiatan dalam “kelompok bebas”, mengemukakan permasalahan dalam “kelompok tugas” dilakukan oleh pemimpin kelompok. Permasalahan yang dikemukakan pemimpin kelompok ini dapat diibaratkan sebagai “pemberian tugas” kepada para anggota kelompok. Permasalahan yang dikemukakan pemimpin kelompok itu selanjutnya akan dibahas oleh kelompok secara mendalam dan sampai setuntas mungkin.
Tugas yang berupa permasalahan yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok itu dapat menyangkut berbagai bidang. Permasalahan apapun yang dikemukakan hendaklah memenuhi cirri-ciri berikut:
1.      permasalahan itu relevan dengan hal-hal yang umumnya dialami oleh sebagian besar anggota kelompok.
2.      permasalahan itu cukup hangat, baru, sedang terjadi, banyak dibicarakan orang, atau besar kemungkinan akan terjadi.
3.      permasalahan itu dapat menimbulkan dampak yang cukup besar; oleh karenanya penting dibicarakan.
4.      permasalahan itu sesuai dengan perkembangan, kemampuan dan pengalaman sebagian besar anggota kelompok.
5.      permasalahan itu menarik untuk dibicarakan.
6.      permasalahan itu dikemukakan dengan jelas serta dalam bahasa yang baik dan benar.
7.      pembahasan permasalahan itu berguna bagi pengembangan pribadi para anggota kelompok.
  
b.       Tanya Jawab tentang Permasalahan yang Diajukan
Dalam hal ini pemimpin kelompok memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para anggota yang bertanya tentang apa saja yang berkenan dengan permasalahan tersebut.
Untuk semua pertanyaan dari para anggota kelompok itu pemimpin kelompok memberikan jawaban dan penjelasan seperlunya yang perlu diperhatikan dalam Tanya jawab ini ialah bahwa pemimpin kelompok tidak memberikan penjelasan yang berarti “mengerjakan tugas” yang diberikannya kepada para anggota.

Hasil Tanya jawab itu sekurang-kurangnya menampilkan hal-hal sebagai berikut:
1.      makin terperincinya aspek-aspek permasalahan yang dimaksud
2.      makin jelasnya tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh para anggota kelompok.
3.      makin jelasnya cara-cara yang harus ditempuh para anggota-anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas itu.
4.      makin jelasnya bentuk hasil yang harus dicapai oleh kelompok stelah berakhirnya kegiatan.
5.      makin jelasnya bentuk laporan dari hasil pembahasan (kalau laporan seperti itu memang perlu).
  
c.       Pembahasan
         Suasana pembahasan pada dasarnya sama dengan suasana pembahasan masalah atau topik pada “keompok bebas”. Suasana yang bebas dan dinamis perlu dikembangkan seluas-luasnya seluruh anggota kelompok perlu didorong dan dirangsang untuk ikut serta dalam pembahasan secara penuh.
Kegiatan “kelompok tugas” pada umumnya membahas permasalahan atau topik-topik umumyang tidak menyangkut pribadi-pribadi tertentu. Oleh karena itu, “kelompok tugas” tidak menekankan kegiatannya pada pemecahan masalah-masalah pribadi para anggota kelompok, maka menurut isi pembahasannya “kelompok tugas” dikategorikan kepada “bimbingan kelompok”.

D.    Tahap IV: Pengakhiran
Jelaslah bahwa kegiatan suatu kelompok tidak dapat berlangsung terus-menerus tanpa berhenti. Setelah kegiatan kelompok memuncak pada Tahap Ketiga, kegiatan kelompok ini kemudian menurun, dan selanjutnya kelmpok akan mengakhiri kegiatannya pada saat yang dianggap tepat.


1.      Frekuensi Pertemuan
Berkenaan dengan pengakhiran kegiatan kelompok, pokok perhatian utama bukanlah pada berapa kali kelompok itu harus bertemu, tetapi pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu ketika menghentikan pertemuan. Kegiatan kelompok sebelumnya dan hasil-hasil yang dicapai seyogyanya mendorong kelompok itu harus melakukan kegiatan sehingga tujuan bersama tercapai secara penuh. Dalam hal ini ada kelompok yang menetapkan sendiri kapan kelompok itu akan berhenti melakukan kegiatan, dan kemudian bertemu kembali  untuk melakukan kegiatan.

2.      Pembahasan Keberhasilan Kelompok
Secara umum dapatlah dikatakan bahwa pemimpin kelompok dituntut agar menjadikan kelompoknya itu lebih menarik dan terasa lebih bermanfaat bagi anggota kelompok. Pada akhir kegiatan hendaknya para anggota kelompok merasa telah memetik suatu hasil yang cukup berharga dari kegiatan kelompok yang diikutinya itu.
















BAB III
TANGGAPAN DAN KESIMPULAN


A.    Tanggapan
Berdasarkan pembahasan dari halaman sebelumnya tentang Dinamika Kelompok penulis makalah setuju dengan adanya dinamika kelompok, karena dengan adanya kelompok, peserta didik dapat melatih dirinya untuk dapat hidup secara berkelompok dan menumbuhkan kerjasama antara peserta didik dalam mengatasi masalah melatih peserta didik untuk dapat mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain dan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat berkomunikasi dengan baik antar sesama  teman sebaya dan pembimbing. Serta penulis setuju dengan adanya tahap-tahap perkembangan dalam layanan bimbingan dan konseling, karena dengan adanya tahap-tahap ini bisa terwujud sebuah kelompok yang harmonis antara pemimpin kelompok dengan para anggota kelompok, dengan adanya saling memahami satu sama lain antara para anggota kelompok.

B.     Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari halaman sebelumnya bisa diambil kesimpulan bahwa tahap perkembangan dalam kegiatan kelompok ini sangat penting, terutama bagi para calon pemimpin kelompok (dalam hal ini guru pembimbing). Dengan mengetahui dan menguasai hal yang sebenarnya terjadi dan apa yang hendaknya terjadi di dalam kelompok itu, pemimpin kelompok akan mampu menyelenggarakan kegiatan kelompok itu dengan baik dan sangat jelas.
Dalam hal ini, para ahli telah mengenali tahap-tahap perkembangan itu. Mereka memakai istilah yang kadang-kadang berbeda namun pada dasarnya mempunyai isi yang sama. Pada umumnya ada 4 tahap perkembangan, yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pengakhiran. Yang mana 4 tahap ini sangatlah penting dalam perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok.

DAFTAR PUSTAKA


Prayitno, 2001. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: GHALIA, Indonesia.
http://dinamikakelompobimbingankonseling.blogspot.com/



Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan