Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » , , » Meneladani umat pembawa rahmatan lil 'alamien

Meneladani umat pembawa rahmatan lil 'alamien

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Sahabat rahimakumulloh
Mudah-mudahan antum semua dalam keadaan selamat dan penuh berkah dari Alloh
Subkhanahu wa Ta'ala.

Marilah kita mencoba menelaah setiap peristiwa dengan penuh hikmah.
Sehingga diharapkan kita akan mendapatkan berkah, aamien. Bila ada yang
bisa menambahkan dengan dalil-dalil yang shohih, silakan, saya sangat
bersyukur dan berterima kasih.

Beberapa hari yang lalu, Pak Wapres, mengeluarkan unek-unek yang ada
dibenaknya. Karena yang menyampaikan 'orang besar' dan mungkin 'suasananya
agak kurang tepat', maka timbullah perbedaan sambutan atas unek-unek wapres
tersebut.

Saya juga turut menyumbang unek-unek, mungkin bisa jadi bahan renungan
untuk budaya 'kebebasan yang bertanggungjawab' yang pada jaman baheula dulu
sering kita dengar dan kita dengungkan.

Mari sama-sama kita telaah...

Mungkin yang dimaksudkan Pak Wapress itu bukan pengaturan adzannya, tapi
pengaturan muadzinnya, volume dan arah speakernya. Bila muadzinnya yang
suaranya terpilih, tentunya enak kita mendengar, dan bisa jadi
membangkitkan semangat kita untuk sholat berjama'ah. Tapi kalau baru bisa
adzan, suaranya apa adanya, terkadang malahan merendahkan nilai masjid itu
sendiri. Belum lagi bila arah speakernya menunduk, maka, yang rumahnya
terkena 'moncong' speaker, sangat kebisingan.

Kalau adzan saja mungkin dimaklumi, dan kita mengerti benar, karena adzan
memang panggilan dan pemberitahuan waktu sholat tlah tiba, tapi ada hal
lainnya yang perlu diperhatikan juga adalah :
[1] Yasinan malam Jum'at, dikeraskan keluar masjid dengan speaker. [2]
Tahlil jelang pengajian yang dikeraskan keluar masjid dengan speaker. [3]
Sholawatan antara adzan dan iqomah yang dikeraskan keluar masjid dengan
speaker. [4] Dzikir sesudah sholat dikeraskan keluar masjid dengan speaker.
[5] Tilawah Qur'an dikeraskan keluar masjid dengan speaker.

Ini semua sangat dikhawatirnya mendzalimi / mengganggu rumah tangga yang
posisinya tepat diarah moncong speaker. Merima telpon terganggu, berbicara
terganggu, memekakkan telinga, mengganggu istirahat balita, dll. Ditambah
lagi bacaan adzan, tilawah, dzikir, sholawatan dan yasinannya, bila kurang
mengindahkan makhrojul huruf, tajwid dan tahsin, ini sangat dikhawatirkan
merusak arti dan makna yang sebenarnya.

Dalam sebuah kesempatan Rasulullah menegur sahabat yang tilawah dengan
suara keras, sementara yang lainnya sedang sholat. Dalam kesempatan lain,
kata Rasulullah, orang yang terdzalimi, doanya makbul, doanya diijabah.
Jadi mari berhati-hati dalam da'wah, jangan sampai mendzalimi tetangga
kanan-kiri kita. Sedangkan Alloh memerintahkan dalam berdzikir untuk-NYA,
hendaknya direndahkan suaranya, karena sesungguhnya Alloh Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui, dan Alloh juga memberitahu kita, seburuk-buruk suara
adalah suara keledai.

Bila semua diatas yang selain adzan ditujukan untuk Alloh dan Rasul-NYA,
bila dilakukan dengan dikeraskan melalui speaker, dikhawatirkan akan timbul
riya', dan ini dikhawatirkan akan menghapus pahala-pahala yang seharusnya
kita terima.

Jadi, kita sebagai pengurus masjid, sebagai masyarakat muslim, sebagai
pembawa rahmat untuk seluruh alama, mari sama-sama kita atur sebaik-baiknya
suara yang keluar dari masjid, agar tetap terjaga keindahannya, dan tidak
mengganggu terlalu lama, melebihi lamanya adzan. Untuk khutbah Jum'at dan
pengajian, saya sarankan menggunakan speaker dalam saja. Demikian pula
sholawatan, yasinan, dzikir sesudah sholat dan lainnya. Sehingga tetangga
kanan kiri masjid kita, tidak terdzalimi dengan apa yang kita lakukan,
meskipun kita sudah mendapatkan izin saat akan membangun masjid kita itu.
Namun, izin membangun itu, bukan berarti izin untuk mengganggu ketenangan
rumah tangga sekitar masjid.

Marilah kita jaga keharmonisan dan nama baik kita dan masjid kita, sehingga
tidak mengganggu ketenangan rumah tangga kanan kiri masjid kita. Mohon maaf
bila kurang berkenan.

Wallohu Ta'ala A'lam bisshowab.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Harun Mubaroq
Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan