Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » » MEMPRODUKSI PUPUK ORGANIK DARI KELINCI

MEMPRODUKSI PUPUK ORGANIK DARI KELINCI

Kelinci adalah hewan mamalia kecil pemakan rumput. Ukuran kelinci sebesar kucing. Hewan ini bertelinga panjang dan berkaki belakang juga lebih panjang serta lebih kuat dari kaki depan. Karenanya cara berjalannya dengan melompat-lompat mirip kangguru. Di Indonesia, dikenal dua jenis kelinci, yakni kelinci jawa (Lepus negricollis) dan kelinci sumatera (Nesolagus netscheri Schlegel). Kelinci jawa sebenarnya keturunan dari kelinci eropa (Lepus europaeuns) yang masuk ke Jawa sekitar tahun 1800an dari India. Sementara kelinci sumatera merupakan hewan asli (endemik) pulau Sumatera. Selain itu masih dekenal pula adanya kelinci timur tengah (Oryctolagus cuniculus). Kelinci yang banyak dipelihara masyarakat, sebenarnya sudah tidak terlalu jelas lagi jenisnya, sebab merupakan campuran dari kelinci jawa, kelinci eropa maupun kelinci timur tengah. Untuk memperoleh galur asli, diperlukan adanya "pemurnian" dengan cara perkawinan sejenis sampai dengan 8 generasi. Namun untuk keperluan produksi pupuk organik, tidak terlalu diperlukan faktor genetik. Sebab hasil utama yang diharapkan adalah kotorannya, sementara daging dan kulitnya merupakan hasil sampingan. Faktor genetik ini menjadi penting pada pemeliharaan kelinci unggul (misalnya jenis Rex) untuk memproduksi kulit dan bulu bermutu tinggi.
Dengan pemeliharaan intensif, satu pasang kelinci dewasa dalam jangka waktu 1 tahun akan beranak sebanyak 4 kali. Sebab masa bunting kelinci sekitar 31 hari (1 bulan) dan masa menyusuinya 58 hari (2 bulan). Setelah selesai menyusui induk betina akan siap kawin lagi. Sekali beranak, kelinci akan menghasilkan keturunan antara 4 sd. 8 ekor atau rata-rata 6 ekor dengan rasio jantan betina 50% X 50%. Anak kelinci akan siap untuk kawin pada umur antara 6 sd. 7 bulan. Kalau kita membeli kelinci dara siap kawin, maka pada bulan I kelinci betina akan bunting dan melahirkan 6 ekor anak pertama. Bulan II dan III menyusui. Bulan IV induk betina kembali bunting dan melahirkan 6 ekor anak kedua. Bulan V dan VI menyusui, bulan VII bunting lagi dan melahirkan 6 ekor anak ketiga. Bulan VIII dan IX kembali menyusui. Bulan X kawin lagi dan bunting serta melahirkan 6 ekor anak keempat. Bulan XI dan XII menyusui lagi. Demikian seterusnya. Sementara anak I sebanyak 3 ekor merupakan betina yang pada bulan VIII sudah bisa kawin dan masuk masa bunting. Bulan IX 3 ekor anak betina itu melahirkan 18 ekor "cucu". Bulan X dan XI menyusui dan bulan XII bunting lagi.  Tiga ekor anak kelahiran II, pada bulan XI sudah  mau kawin dan bunting, hingga bulan XII lahirlah 18 ekor "cucu" dari anak kedua. Demikian seterusnya. Dengan pemeliharaan intensif demikian, sepasang kelinci jantan dan betina dewasa siap kawin, setelah satu tahun akan menghasilkan 24 ekor anak dan 36 ekor "cucu". Hingga total, populasinya menjadi 62 ekor.
Rumus tersebut hanya berlaku untuk pemeliharaan intensif dengan kandang baterai (kandang individu). Hingga masa kawin, bunting, melahirkan dan menyusui benar-benar bisa diprogram sesuai dengan jadwal. Lain halnya dengan pemeliharaan sistem koloni. Baik dengan kandang postal (seluruhnya tertutup, tanpa tempat terbuka untuk umbaran) maupun kandang ren (sebagian tertutup sebagian terbuka sebagai umbaran). Dengan sistem koloni, masa kawin dan menyusui akan berjalan secara alamiah. Paling banyak, satu induk betina hanya akan bunting dan melahirkan sebanyak 3 kali dalam setahun. Jumlah anak rata-rata tetap 6 ekor.  Tetapi anak yang siap kawin, bunting dan melahirkan, bukan yang I dan II melainkan hanya anak I. Hingga jumlah populasi setelah  satu tahun pemeliharaan adalah 18 ekor anak dan 18 ekor "cucu" atau total populasinya 38 ekor. Harga eceran sepasang kelinci "kampung" siap kawin saat ini sekitar Rp 50.000,- Untuk memproduksi pupuk organik, disarankan menggunakan kelinci kampung. Bukan ras yang harga bibitnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per pasang. Pembuatan kandang postal maupun ren,  harus disiapkan untuk jangka waktu minimal 1 tahun. Dalam arti mampu menampung sekitar 40 ekor kelinci hasil pemeliharaan semi intensif tersebut. Idealnya, bahan kandang merupakan barang-barang bekas hingga biayanya bisa ditekan sekitar Rp 50.000,- sd. Rp 100.000,- Yang penting, kandang tersebut cukup kuat serta aman, hingga kucing, anjing atau binatang pengganggu lainnya tidak bisa masuk.  
Untuk memproduksi pupuk organik, sistem pemeliharaan yang dianjurkan adalah semi intensif (koloni) baik dengan kandang postal maupun ren. Sebab dengan cara ini sisa-sisa rumput akan bisa menumpuk dalam kandang dan secara alamiah akan mengalami pengomposan. Tiap 1,5 bulan, tumpukan sisa-sisa rumput itu dibalik, sambil diurai. Pada pembalikan kedua, sisa-sisa rumput yang telah terfermentasi dengan baik dan telah menjadi pupuk organik, bisa diambil. Pupuk baru ini belum bisa langsung dipergunakan untuk memupuk tanaman karena proses pengomposannya masih belum sempurna. Untuk itu perlu dilakukan penumpukan di tempat lain lagi hingga terjadi proses pengomposan lanjutan. Tinggi tumpukan maksimal 1 m. Pada proses pengomposan yang benar, akan terjadi pemanasan di bagian dalam tumpukan. Suhu di bagian ini bisa mencapai 40° sd. 50° C. Panas disebabkan oleh proses penguraian selulosa oleh bakteri aerob (bakteri yang pertumbuhannya memerlukan oksigen). Proses penguraian oleh bakteri aerob tidak menimbulkan bau. Pupuk organik disebut sudah "matang" apabila sisa-sisa rumput benar-benar lapuk hingga mudah dihancurkan dengan cara diremas menggnakan tangan. Pupuk organik yang dihasilkan dari kandang postal/ren ini, berasal dari sisa-sisa rumput dan kotoran yang tercampur urine, hingga volumenya cukup besar. 
Pada pemeliharaan intensif dengan kandang baterai dan sistem individual, pupuk organik yang didapatkan hanya berupa kotoran murni campur urine. Sebab pakan yang diberikan berupa hijauan terpilih, silase (hijauan yang diawetkan) atau konsentrat yang tidak meninggalkan sisa. Lantai kandang baterai biasanya berlubang-lubang hingga bisa meloloskan seluruh kotoran dan urine ke arah bawah. Di bawah kandang dipasang plastik yang akan menampung kotoran serta urine tersebut, lalu mengalirkannya ke dalam wadah (ember plastik) sebagai penampung. Di sini, kotoran tidak mengalami fermentasi seperti halnya pada pemeliharaan di kandang postal/ren, melainkan mengeluarkan gas methan (biogas). Dengan teknologi yang sangat sederhana, sebenarnya gas ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Volume pupuk yang dihasilkan dari kandang baterai sangat kecil, tetapi mutunya jauh lebih baik. Penggunaan pupuk organik kotoran kelinci dari kandang baterai, harus dengan terlebih dahulu dicampur air. Perbandingannya 1 : 20 (1liter kotoran dimasukkan ke dalam 20 liter air). Kalau campuran masih terlalu pekat, misalnya 1 : 10, tanaman yang dipupuk justru akan mati. Sebab kandungan N (Nitrogen) dari urine sangat tinggi hingga pupuk tersebut justru akan menghanguskan tanaman. Lebih-lebih kalau yang dipupuk tanaman semusim. Karena kualitasnya yang cukup tinggi, pupuk kelinci dari kandang baterai ini sangat cocok untuk budidaya tanaman yang nilai ekonomisnya juga cukup tinggi. Misalnya paprika, brokoli, stroberi dll.

Di atas telah disebutkan bahwa produksi pupuk organik dari kelinci, idealnya menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif secara koloni di kandang postal/ren. Sebab pada pemeliharaan intensif/individual di kandang baterai, biayanya akan terlalu tinggi. Baik biaya bibit, kandang, pakan maupun tenaga kerja. Sebab tujuan pemeliharaan sistem ini bukan untuk memproduksi pupuk, melainkan daging dan kulit. Padahal tujuan utama pemeliharaan kelinci kali ini adalah untuk membuat pupuk organik. Hingga biaya harus ditekan semurah mungkin agar produk yang dihasilkan bisa bersaing. Pakan yang kita berikan sebaiknya berupa rumput atau hijauan limbah pertanian yang nilainya nol. Biaya pengambilan juga kita nolkan sebab bisa dilakukan oleh anggota keluarga secara sambilan. Kalau ke dalam kandang kelinci itu tiap hari rata-rata kita masukkan 10 kg. rumput atau hijauan lainnya, maka sekitar 7,5 kg. akan menjadi pupuk. Dalam 1 tahun akan dihasilkan 2.737.5 kg. pupuk organik. Pupuk tersebut bisa kita jual dengan harga Rp 250,- per kg. Hingga nilai pupuk organik kotoran kelinci tersebut adalah Rp 250,- X 2.737,5 =  Rp 684.375,- Harga pupuk kandang kotoran sapi maupun kambing di tingkat peternak, saat ini sekitar Rp 100,- sd. Rp 150,- per kg. Pupuk kelinci bisa dihargai lebih tinggi dari pupuk kambing/sapi karena kualitasnya yang lebih baik. 
Pendapatan pupuk organik tersebut kita peroleh dari pemeliharaan kelinci dengan sepasang induk pada tahap awal. Selain pupuk organik masih ada pula hasil berupa 38 ekor (dewasa + anak) kelinci, dengan harga jual eceran Rp 10.000,- per ekor atau total Rp 380.000,-  Kalau kita start awal dengan 10 pasang, maka hasil akhir kelinci yang diperoleh adalah 380 ekor dewasa + anak dengan nilai Rp 3.800.000,- Volume pupuk organiknya 27.375 dengan nilai Rp 6.843.750,- Yang menjadi masalah adalah, menjual kelinci jantan (betinanya akan terus diternak), tidak semudah menjual ayam atau itik. Kecuali di kota-kota kecamatan di Jawa Tengah. Karenanya, harus dicari upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Seorang peternak marmot, pernah mengeluh karena populasi ternaknya telah mencapai ribuan ekor. Akhirnya dia mengkombinasi ternak marmotnya dengan peternakan ular. Nilai jual ular (terutama untuk diambil kulitnya) ternyata jauh lebih menguntungkan dibanding dengan harga marmot tersebut. Apabila kita kesulitan menjual kelinci hidup, bisa saja dipotong dan dikuliti. Kulit kelinci banyak dicari oleh para perajin. Sementara dagingnya bisa dikonsumsi oleh ikan carnivora dengan nilai jual tinggi. Misalnya gabus, belut atau sidat. (R) ***   



Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan