Usaha

 photo cooltext934587768.png
Home » » Sejarah Filsafat Positivisme

Sejarah Filsafat Positivisme

BAB I
PENDAHULUAN


Dalam makalah ini akan memaparkan ilmu filsafat tentang positivisme.
Positivisme adalah hanya menerima fakta-fakta yang ada atau yang ditemukan secara positif ilmiah, dan menjauhkan diri dari semia pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif.
Bagi Comte Pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara terisolasi, dalam arti harus dikaitkan dengan teori.
Positifisme juga bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri dan menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan perlunya experiment dan ukuran-ukuran. Jadi pada dasarnya positifisme itu sama dengan empirisme dan positifisme dan empirisme.
Positifisme juga mempunyai 3 hukum yang tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia tetapi juga berlaku bagi semua orang.



















BAB II
PEMBAHASAN



A. Sejarah Filsafat Positivisme

Filsafat positifisme lahir pada abad ke-19. Titik pemikiranya apa yang telah diketahui adalah yang factual dan yang positif, sehingga metafisika ditolak. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apaadanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif.
Jadi setelah fakta diperoleh maka fakta-fakta itu diatur untuk dapat memberikan suatu asumsi kemasa depan.
Ada beberapa tokoh diantaranya yaitu Agust come (1798-1857), John S. Mill (1806-1873).
• Agus Comte(1798-1857)

Lahir di Montpellier Prancis.
Sebuah karya adalah cours de philosophia positive (kursus tentang filsafat posisitif) dan bekerja dalam menciptakan ilmu sosiolog.
Menurut pandapatnya, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap: Tahap teologis , tahap metafisme, tahap ilmu/positif
1. Tahap teologis manusia mengarahkan pandangan kepada hakikat yang batiniah (sebab batiniah) disini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak, artnya dibalik semua kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
2. Pada tahap meta fisis manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang tandanya bersifat adil kodrati, diganti dengan kekutan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintregrasikan dengan alam.

3. pada tahap ilmiah/positif, manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya mengenal teologis dan mentafsirkan tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hokum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.

Tahap tersebut berlaku pada setiap indifidu dalam perkembangan rohani) juga dibidang ilmu pengetahuan pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk membangun agama baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya,agama baru tanpa teologi ini mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan “ cinta sebagai prinsip teratur sebagai bari, kemajuan sebagai tujuan”.
Sebagai istilah ciptaanya yang terkenal yaitu menganggap bahwa soal utama sebagai manusia ialah usaha untuk hidup bagi kepentingan orang lain.

B. Pengertian Positifisme

Positifisme berasal dari kata “positif’ Kata positif disini sama artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positifisme, pengetahuan kta tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Denagn demikian, maka ilmu pengetahuan empiris contoh istimewa dalam siding pengetahuan. Maka filsafatpun harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu positifisme menolak cabang filsafat meta fisika. Menanyakan “hakikat” benda-benda atau “penyebab yang sebenernya”, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta=fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta tugas khusus filsafat ialah mengkoornasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang beraneka ragam coraknya.
Tentu saja maksud positifisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Positifisme pun mengutamakan pengalaman hanya berbeda dengan empirisme inggris yang menerima pengalaman batiniah atau subjektif sebagai pengatahuan, positifisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, ia hanya mengandalkan fakta-fakta belaka.

C. Tiga Zaman Perkembangan Pemikiran Manusia

Titik tolakajaran comte yang terkenal adalah tanggapan atas perkembangan manusia, baik perorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman. Menurutnya, perkembangan menurut tiga zaman ini merupakan hokum yang tepat. Ketiga yaman itu adalah :



1. Zaman teologis

Pada zaman teologis manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk insani biasa. Zaman teologis ini dapat dibagi lagi menjadi tiga periode. Ketiga periode tersebut adalah sebagai berikut:
a. Animisme
Tehap animisme ini merupakan tahapan yang paling primitive, karma benda-benda sendiri dianggapnya mempunyai jiwa.
b. Politeisme
Tahap politisme ini merupakan perkembangan dari tahap pertama, dimana pada tahap ini manusia percaya pada banyk dewasa ini yang masing-masing menguasai lapangan tertentu,; dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar.
c. Monoteisme
Tahap monoteisme ini lebih tinggi dari dua tahap sebelumnya, karma pada tahap ini manusia hanya memandang satu tuhan.

2. Zaman Metafisika

Pada zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep yang abstrak. Seperti misalnya “kodrat” dan ‘penyebab”. Metafisika pada zaman ini dijunjung tinggi.

3. Zaman Positif

Zaman ini dianggap Comte zaman tertinggi dari dari kehidupan manusia. Karana pada zaman ini tidak ada lagi usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Manusia kini telah membatasi diri dalam penyelidikanya pada fakta-fakta yang disajikanya. Atas dasar observasi dan dengan menggunakann rasionya, manusia berusaha menetapkan hubungan-hubungan persamaan dan urutan yang terdapat fakta-fakta. Pada zaman terakhir inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Hukum tiga zaman ini tidak berlaku bagi manusia sebagai anak manusia bila berada dizaman teologis, pada masa remaja ia masuk pada zaman metafisis dan pada masa dewasa ini memasuki zaman positif. Demikian pula ilmu pengetahuan berkembang mengikuti tiga zaman yang akhirnya mencapai puncak kematanganya pada zaman positif.









































BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menyatakan “hakikat” benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya”, termasuk juga fisafat, hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta tugas khusus filsafat adalah mengkoordinasikan ilmu pengetahuan yang beranekaragam coraknya.
Maksud positifisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme positifisme pun mengutamakan pengalaman.
Jadi pada dasarnya positifisme bukanlah satu aliran yang khas yang berdiri sendiri.


B. Saran

 Jadikanlah makalah ini sebagai media untuk memahami diantara sumber aliran filsafat modern yang bias memberikan kekuasaan bagi adanya bahan-bahan yang bersifat pengalaman.
 Jadikanlah makalah ini sebagai pedoman yang bersifat untuk menambah wawasan pengetahuan.
 Jadikan acuanpemahaman yang lebih dalam sebagai wadah untuk menampung ilmu.












DAFTAR PUSTAKA

Acmadi Drs. Asmoro.1995.Filsafat Umum.Semarang:Perpustakaan nasional
Share this games :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang sopan